29 Maret 2010

.."Purnamaku.."...

Ini purnamaku...
Terhias kegelapan tanpa gemintang mengelilingi benderangnya,tanpa desir semilir angin malam mengiringi.
Ini purnamaku...
Pernah ku titipkan kenangan dalam cahaya nya,sempat ku arungkan decak kekaguman pada cinta di masa lalu.
Ini purnamaku...
Tentang ilalang liar di tanah lapang..tentang janji setia dalam dekapan..tentang buaian di pangkuan..tentang tetes airmata kebahagiaan..tentang rasa merasa abadi..tentang ketakutan di tinggalkan dan tentang kematian yang kan menjemputku segera.
Di purnamaku ini...
Semoga Dia menjemputku,sebagaimana di purnama ini aku datang ke bumi..

.."Di cinta mu.."...

Aku ingin berlabuh...
Tak ku tahu sampai kapan ku kan melabuh,namun ku pastikan padamu..Di cintamu,ku titipkan asa bahagia.
Di cintamu...
Damai hatiku melangkahi segenap waktuku dan di cinta mu ku ingin selama nya kamu cinta ku di cintamu aku.
Di cintamu...
Jaga kan setia ku dan setia mu tetap menyatu..sisihkan peluh,kita saling merengkuh satu di cinta mu cinta ku mencinta mu dan cintaku menuntunmu tetap di jalan cintaku padamu..

Hatiku..sunyi..selalu..

Terbujur lesu di kamar ini...lentuknya gairah menawan berjuta mau merampas belulang dari jaga nya,lemah lemah serapuh tak bertulang.
Hanya mata nanar menatap langit-langit kamar...Pagi sudah terang mengiring sang surya berpendar..di pucuk-pucuk dahan pepohonan,bahkan di sebuah hati yang merindukan buai sinar paginya.
Pagi ku sunyi...Aku sendiri menatap bubungan arak-arakan mega,melaburinya tanpa berpatah sepatah kata..memandangnya jauh,menembus jiwa serta dada lara..

puisi tanpa nama

Lagi...Siapa yang mengetuk pintu itu?buka kan saja dan suguhkan kerlip bintang di hati.
Ada benang yang terulur,kenapa tangan meraihnya..bisa kah kau raup segenggam cinta untuk penawar luka di sekujur jiwa?..lihatlah..hati itu berdarah..kerjap pandangan mata,mengaliri mimpi..Apa hati nya di ikat pada tiang panjang dan di tinggalkan dalam kamar hingga cakar nya begitu membeku?..
Dia apa punya hati untuk menyapa..sisa nya jiwa berbalur ego..mencari cinta dan menebar pesona..untuk di cinta..

.."aku tak tahu,eF.."..

Apalagi yang harus ku katakan kepadamu,eF..kau sadar atau tidak,aku lelah berusaha memahami apa yang kau mau,aku lelah harus setiap saat meluruskan ekspresi jiwaku tentangku manakala ku tahu kau asyik dengannya.
Aku ingin pergi,eF...Aku ingin menjauh dari kehidupanmu dan biar aku kembali buta tentangmu,daripada setiap waktu aku harus bergelut dengan jiwa juga hatiku melihat keramahanmu dengannya.Aku memang bodoh kenapa aku begini,harus merasa kau tak pernah ada di antara kita,aku dan kamu saja.Kau ada bukan hanya untuk aku,tapi untuk lelaki-lelaki yang kau ingin miliki semua...

"sudahlah,eF.."..

Aku hanya seorang lelaki biasa...Aku hanya pingin punya hati yang bisa di sentuh seperti hal nya hati wanita tersentuh,aku ingin memiliki kesetiaannya,ketegasannya memilih..itulah wanita yang ku kenali...
Adakah wanita seperti itu sekarang,eF...
Yang aku tahu mereka kini berlomba dengan mimpi,mengejar status dan meragui hatinya sendiri..mengejar untuk puluhan juta perhatian dari banyaknya sanjungan.Kepedihan adalah rayuan...Manja adalah lidah hitam,pujiannya adalah persembunyian,lidah hitam..

.."penuhi aku ya robb.."..

Penuhi aku,robb...
Dengan setetes saja dari anggur cinta-Moe agar indah setiap pandanganku menjadi lebih terindah,biar hatiku menjadi hati anggur cinta-Moe.
Penuhi aku,robbiy...
Jangan lipat lidahku mengabarkan keindahannya dlm peliputan cinta-Moe dan biarkan mereka menemukan kebenaran cinta itu,meski harus mengambil nyawaku.
Penuhi aku dengan cahaya cinta-Moe,robb...
Biar tak lagi ku rasa getar dogma dari cinta selain-Moe,biar pupus cinta pada makhluk terindah-Moe,biar tak ku rasakan lagi luka nya terbenam dalam lidah ular dunianya..

Puisi tanpa koma

Oh..Sang pencari kasih sayang dalam landaan luka...
Pengorbanan raga melagukan bahasa mau
Pengorbanan rasa mengumandangkan bahasa getaran hati
Agar tergetar untuk di miliki.
Menggelepar liar di bakar haus rindu
Menggeliat menahan perih di amuk benci
Bertepuk sebelah tangan menghanguskan asa merenjana
Mengamuk bathin dlm ruangnya meminta ronta.
Bagaimana........
Titik-titik menjadi garis baris
Baris-garis menjadi bentukan wujud membentuk rupa dan dalam rupa-rupa pun membuah rasa.
Maka.....
Yang mengalir bukan hanya air
Yang membakar bukan hanya Api
Yang bersama tidak saling memiliki
Yang memiliki tidak satu dalam rasa dan mau

Anekdot Shufi

.."Seseorang harus di bakar dulu dalam API CINTA untuk ber hak memandang KEKASIH ABADI.
Nama dan kedudukan sama sekali tak berarti dalam AJARAN CINTA sebelum ia bisa memandang kebenaran debu eksistensi harus di bersihkan dari cermin jiwa.Sesudah itu,baru lah ia bisa melihat pantulan KEKASIH ABADI dalam cermin itu"..

Tuk ke sekian kalinya

Jiwa mempertanyakan,seberapa besar hati bisa menjalani ketetapannya dalam menyusuri titian rasa kala jatuh cinta dan mempertanyakannya ketika harus melewati satu jalan kejenuhan menjalani kebersamaan nan sepi rintang aral..
Sejauh mana hati kan selalu bisa mengabdikan kesabaran menemani tiap tetes rasa cinta yang telah menciptakan kesenjangan setelah hati harus me-rela untuk sedia memaafkan di saat kita selalu menjadi seseorang yang manis untuk kekasih kita..
Sepi...

Kenangkanlah

Karna mungkin itu sisa terindah yang pernah terlewati...
Kenangkanlah..
Tak usah ambil kesedihan di dalamnya,walau mungkin itu teramat menyakitkan..toh tak ada guna nya ber asyik-masyuk pada kebencian lama.
Kenangkanlah...
Toh di lupakan pun tiada bisa,segala yang di ingat akan tetap teringat.
Nikmati saja alur nya...
Mungkin dengan begitu segalanya tetaplah berjalan apa adanya.Sebenci apa,waktu kan membuat jiwa tersadar jua akhirnya bahwa kehidupan tetap berjalan sampai batas yang telah di tentukan-Nya.Akan jua di mengerti,suka-duka kehidupan adalah kabur tidaknya sudut pandang terhadap-Nya.

Dengarkah

Bahwa di hembus hempasan angin pagi...
Bahwa di balik lipatan mega-mega menyingsing surya...
Bahwa di kerapatan kulit,tulang-belulang yang terasuk dingin...
Bahwa di gumam bathin terlengang jiwa kosong mata nanar memandang sepi diri...
Bahwa di antara gelegak asa memaut terpendam resah menahan perih...
Bahwa hati itu ternyata...
Sendiri menepi.

Archives