14 Januari 2011

Sederhana

Seseorang pasti punya kesalahan di masa lalu..
Seseorang pasti pernah merasa berbuat baik..
Seseorang pasti pernah merasa jauh lebih baik karna seseorang yang lain..
Dan seseorang itulah yang membuat semua jadi lebih baik..
Diakui jujur atau tidak,seseorang bisa menjadi lebih baik karna yang lain.
Dan dia menjadi salahsatu yang terbaik,yang pernah di miliki..

Sesaatpun ku mau

Biar kamu rahasia dlm hatiku...
Tlah ku miliki itu tanpa tiada seorangpun tahu,ku pendam jauh sedalam-dalamnya.
Biar itu tetap jadi milikku...
Walau ku tahu sekejap bertemu lalu hilang di rerimbunan kata,aku telah merasa cukup bahagia bisa dekat dengannya.
Biar semuanya berjalan,apa adanya...
Aku tak mau perasaan indah nan meluka ini akan membuatnya justru pergi dan menjauh dariku hanya karna keinginan ego ku sendiri.Aku sudah cukup bahagia bisa menemani nya dan ada saat dia menginginkan,sejauh yang aku bisa lakukan untuknya..aku terima

Tak seHarusnya

Aku berharap tentang dia di hari ini...
Tak semestinya berharap dia datang dan menyatakan hati,walau hanya sekedar rindu.
Tak selayaknya aku merasa begini...
Bagai terbiar sepi di antara kesendirian yang ku pilih,hanya tatapan mata rintih memandang dua mata di balik kaca.
Apa arti ku pinta itu semua...
Bagai takut dia menghilang dariku,merasa takut dia menjauhiku,merasa tak sebanding menyatakan rindu pada hati yang tak semestinya tuk ku harap ada untukku..

Kenangan bersamamu....

Ada sebentuk kelukaan yang meleleh disini...

Sisa dari guratan hati tentang perasaan yang saling mencinta,

Sisa dari impian indah jiwa tentang bahagia di hari nanti.


Betapakah kini semua itu menguap begitu saja...

Tak ada tangan yang mendekap erat,

Tak ada kata "henti" tuk menhalangku pergi,

Semua berlalu menyisakan sepi.


Perihnya harus terpisahkan darimu...

Walau bukan mauku tetap saja ku musti terima,

Meski bukan kesengajaan tetap jua harus diakhiri,

Aku berusaha mengerti.


Begitu ironisnya perasaan cinta ini...

Kesetiaanku pun tak sanggup menahan kau pergi,

Kerelaanku pun tak jua bisa membuatmu tetap bersamaku,

Aku berusaha menerima.


Aku yang masih mencintaimu...

Senantiasa percaya betapa perasaanmu takkan berubah,

Selalu ku yakinkan diriku berkali-kali dalam setiap dilema,

Meski kau akhirnya memilih pergi,

Aku senantiasa tak pernah membenci.


Ku cintai dirimu demi kita di masa nanti...

Biar ini tetap ku simpan tanpa sedikitpun menyalahkan masa lalu,

Aku tetap menatapmu dengan indah,

Sebagaimana aku yang dulu mencintaimu dan takkan hendak mengubahnya.

Aku tersenyum...

Aku bisa terima semua ini...
Tak harus ku membenci ataupun berniat tuk menjauhi,
Aku memperhatikan dan aku tersenyum..

Aku mengerti...
Jika ku pinta pun ku tak yakin bisa membuatnya terus bahagia,
Tetap saja kan ada luka dan kecewa,
Itu hanya soal waktu..

Jika dulu dia mengira kan bahagia bersamaku,itu dulu...
Ketika dia masih dipenuhi keinginan yang besar tuk memilikiku,
Tetapi ketika keinginan itu tak terpenuhi,
Dia baru mengatakan tak bahagia.

Aku tersenyum...
Sejauh mana perasaannya bisa tetap mencintai dan tetap menjaga itu,
Sepertinya dia tak pernah yakin meski dia tahu cinta itu kan menyatukan yang terpisah dan berbeda,
Itu sebabnya dia melangkah pergi dan tak bisa setia dengan perasaannya sendiri..

Aku tersenyum...
Cinta yang tulus dan setia yg perna diungkapnya hanya seuah kata-kata,
Sajak perih sebuah keibginan yg belum terpenuhi,
Atau mungkin hanya syair penggugah para hati,
Sekedar susunan kata yang terbingkai oleh kesendiriannya sendiri.

Bagaimana dia bisa membuat hati mencinta,sementara dia tak bisa setia dengan perasaannya sendiri?...

Kata-kata ditaburkannya agar membuatnya tetap mewangi...
Apakah dia juga tahu bahwa kata-kata itu kan berlalu dan dilupakan jua kelak?...

Aku melihat hatimu dari kata-katamu sendiri...
Betapa kepandaian hanya tabir kesepian hatimu sendiri,
Syair-syair tak ubahnya keniskalaan dan dilema hatimu dalam memilih,
Apakah terlalu banyak hati yang kau pertimbangkan dengan dalih mencari kebahagiaan?..
Apakah dengan semua pertimbangan fikiran itu adalah jawaban kebenaran hatimu?...

Semua itu hanya kan membuatmu tetap bimbang...
Tak ada keberanian memilih dan menempuh kehidupan dengan semua konsekwensinya,
Lantas bagaimana bisa kau menemukan kebenaran dari bahagia mu yang kau maksudkan?..

Aku tak berpaling dan tak berlalu dari mu...
Aku mengawasi dan aku tersenyum memahaminya,
Tak untuk ku intervensi dirimu dengan pemahamanku,
Biar semua tetap berjalan semestinya,
Hingga semuanya tampak jelas nanti,bagku dan bagi dirimu sendiri..

Skripsi Hati Sepi

Di sisi sebuah sungai aku pernah berteriak lantang...
Berharap bisa meredam gejolak amarahku pada kenyataan,
Pernah juga menghabiskan malam dengan berpekur sendirian,
Mencoba mengusir kerapuhan dari hati atas kelukaan pemahamanku sendiri.

Aku suka merajuk pada hatiku sendiri...
Membagi segenap penat dan kesedihan tanpa harus membuat keributan,
Walau dengan sadar dan mungkin tak semua orang menyadarinya,
Betapa sikap seperti itu tetap kan membuat kecewa di hatiku sendiri.

Pernahkah kau tanya dirimu sendiri tentang ini...
Bahwasanya mengitari hati sendiri kan tetap melukai sebagian sisi hati kita sendiri?..

Kini ku bahasakan rasa hatiku dengan kalimat-kalimat ini...
Tak kurutuk setiap pemikiran berbeda dari yang beda atas yang terjadi,
Yang pasti aku tak ingin banyak mengeluh ataupun menyanggah realita,
Tak ingn terlalu banyak membenarkan pemikiranku sendiri.

Pernahkah kau tanya dirimu sendiri tentang ini...
Berapa menit kita bisa menerima ridlo yang terjadi dari yang kita harapkan dengan keluh-kesah kita?..

Aku suka menyembunyikan hatiku sendiri...
Berharap bisa menciptakan kenyamanan menjalani realita fikir dan rasa bathin,
Bisa menjadi cahaya diri sendiri,mencahayai orang lain dan orang lain pun begitu,
Apakah aku tak merasakan kecewa karena menempuhnya?..

Pernahkah kau tanyakan pada dirimu sendiri tentang ini...
Bahwa di dunia ini seindah apapun pandangan terhadapnya kan binasa juga?..

Kita bisa dekat..
Kita bisa jauh..
Kita kan saling mendekat..
Kita kan saling menjauh..
Meskipun bukan kemauan dari kita sendiri.

Yang cinta bisa tetap saling mencinta atau hanya satu dari keduanya yang tetap cinta..
Yang benci bisa terus membenci atau menciptakan kebencian pada yang lain,
Atau mungkin bisa menjadi sangat2 benci hingga mata tertutup untuk memaafkan..

Yang rindu semakin tertawan oleh keinginan membuta...
Bukan lagi hanya sekedar bertemu dan bercengkrama.
Yang rindu bisa menggeliat rapuh dalam kebimbangan menunggu,
Atau kan hilang dalam kesedihan membayang rundung.

Masih Muda(tentang CINTA): Dari Wanita itu..

Ia punya hati yang tak mudah jatuh cinta...
Yang tak mudah tergetar oleh kharisma wajah dan kedudukan,
Yang tak mudah goyah oleh pergaulan yang mengatasnamakan mode gaul,
Yang tak mudah terbius oleh ajakan kesenangan sejenak.

Ia tetap menjaga kodrat dan kehormatannya...
Tak tergesa-gesa dan memaksakan kehendaknya tanpa melihat kemampuan,
Tak hanya melihat dengan perasaan tapi juga realita dan penjagaan diri,
Menjaga prilaku tidak harus meniadakan tata krama.

Tak harus tampil lebay untuk di hargai dan dipuji...
Tak harus tampil modis agar terlihat cantik demi mendapatkan pujian lelaki,
Tak harus memaksakan diri memiliki sesuatu hanya karena tak ingin dibilang norak,
Lebih norak lagi jika semua itu dilakukan tanpa mengukur kemampuan diri sendiri.

Apa yang kau cari,wanita...
Menjadi wanita sperti dalam tatanan agama,itu jauh lebih terhormat dunia akhiratmu..
Tetapi jika kau menjadi wanita hanya demi memperjuangkan glamournya duniamu kini,
Maka jangan pernah menyesal dan meratapi kenyataan hidupmu nantinya.

Jika usia mu sekarang 18 tahun..19 tahun..20 tahun dan seterusnya..
Kau fahami masih muda dan kau dalihkan sebagai kebebasan berapa saja,
Maka bisa difahami juga kau hanya akan kerap meratap,merutuk dan mencela,
Terkesan selalu hanya keinginanmu yg paling utama dan wajib terlaksana.
Tetapi,Apakah demikian realitanya?..

Kau tetap saja meratap,merutuk dan mencela...
Menyalahkan keadaan,menyalahkan orang lain dan menyalahkan kenyataan,
Seolah kehidupan seharusnya berjalan sebagaimana yang kau rencanakan..

Kau masih muda...
Belajarnya memahami hatimu..jiwamu dan dirimu sendiri..
Belajarlah memahami arti hidupmu,kehidupanmu dan imanmu sendiri..
Karena kehidupan ini bukan hanya soal mode gaul dan lebay mu..
Bukan hanya soal makan dan minum juga kesenangan-kesenanganmu,
Tetapi juga sebrapa kuatnya dirimu menjalani realita kehidupan...

Jangan hanya pandai menangis jika sudah tak tercapai...
Jangan hanya pandai menangis jika kecewa karena sikapmu sendiri,
Jangan hanya pandai menangis dan menyalahkan orang lain..

Jadilah cahaya bukan hanya ketika kau sendirian..
Tetap bercahaya meski kau tak lagi sendiri,
Dan jangan hanya mencahayai dirimu sendiri tapi juga atas orang lain,
Sebab cahaya mu bisa hilang tanpa cahaya yang lain.

Jadilah bunga yang tetap menjadi bunga..
Jika kau melati putih tetaplah menjadi melati putih,
Tetap wangi dan tak berubah esensi oleh keadaan apapun,
Karena hanya dengan begitu kau akan bisa melihat dirimu yang lebih baik.

Jangan jadi bunga yang terbuat dari karet dengan besutan warna-warni...
Yang mudah lentuk dan luntur serta tak wangi lagi,
Jangan hanya jadi bunga yang merasa bisa tetap hidup hanya karena bangga dengan dirinya sendiri,
Sebab indahnya bunga pun karena ragam bunga yang lain,
Dan yang tak bisa dipungkiri adalah karena ia bisa melihat Tuhannya dalam dirinya sendiri..

Sesuatu tentang CintA.........

Ketika Dia menganugrahkan dia(cinta)atas tiap diri,gelisahlah dia(hati)...
Tak ada satupun pengetahuan yang bisa memahaminya(cinta),
Dia(cinta)mengaliri setiap inci kesadaran hingga tiada tersadar telah mabuk atasnya.

Pemahaman awal atas cinta adalah kegelisahan...
Awal dimana pemikiran menjadi buta dan bimbang,
Merasuk kedalam hati dan melemahkan setiap kekuatan yang dimiliki,
Cinta itu telah menghapus semua pengetahuan apapun.

Tetapi dia(cinta)...
Memulihkan kembali pengetahuan dan rasa ingin tahu semakin menjadi-jadi,
Mengoyak pemikiran menjadi berlaksa-laksa tanya jawab yang tak pasti,
Tubuh bak di berangus oleh alirannya,
Kekuatan yang lunglai kembali penuh daya.

Dia(CintA)...
Mengajarkan tata krama mencintai
Mengajarkan adab mengasihi dan memberi,
Mengajarkan tata cara tuk saling menghormati.

Dia(CintA)...
Membuka hijab pemikiran menjadi lebih terang memahami,
Membuka selubung ketidaktahuan menjadi acuan tuk belajar lebih berpengetahuan tentangnya(cinta),
Menjadikan hulu dari semua titik yang menjadi pusat perhatiannya sendiri.

Dia(CintA)di hati...
Menyapu bersih setiap cela menjadi sempurna,
Membentuk pemahaman sempurna menuju pemahaman abadi,
Itulah pandangan si FANA yang merasa menjadi ABADI.

Dia(CintA)di pandangan fikiran...
Menciptakan faham toleransi yang tinggi dan membentuknya menjadi Sang pemaaf,
Menciptakan badai kebimbangan dan membentuknya menjadi Sang ego lebih egois,
Mampu mematahkan asa diri atau membangunkan istana terindah atas diri sendiri.

Dia(pencinta)dihadapkan dua pilihan...
Cinta tetap cinta di hati dan terus berada di hati pun mematrikannya agar tetap abadi,
Ataukah cinta tetap cinta atas jiwa dalam pandangan jiwa yang memenuhinya dengan materi nikmat badani?..

Dia(pecinta yang mabuk dalam cinta)...
Diri dan cinta adalah cinta itu sendiri,
Fana dan abadi adalah jawaban rasa tertinggi dari kerelaan menjalani ,
Mana lah cinta jikalau diri sendiri adalah manifestasi cinta itu sendiri?..

Dia(pecinta yang mencari kenikmatan duniawi)...
Baginya cinta adalah mutlaknya memiliki dan memuaskan keinginan,
Selain daripada itu adalah kebencian dan kesenangan yang takkan pernah terpuaskan,
Mudah tergantikan dan mudah dihancurkan.

Sesuatu tentang...

Langit mendung membuncah...
Ku kabarkan pada perasaan dan fikiran yang terus digelayuti kemiskinan rasa percaya diri,
Tentang cinta dan rasa cinta..tentang materi dan materi penyerta nya.

Kau mencintainya?...
Cukupkah perasaan mencintaimu itu hanya dengan rasa dan gerak tingkah tanpa harta benda?..
Cukupkah kau bilang sayang dan dia tak memerlukan harta benda untuk menyambungnya?..
Cukupkah hanya kau temui,kau telp dan sms saja?..

Cinta mu kepadanya tetap memerlukan harta benda...
Bukan karena materialistis tetapi realistislah akan realita keberadaan kalian sendiri,
Bukankah kalian butuh makan dan minum dan itu memerlukan harta benda tuk memenuhinya?..

Kata-kata puitis mungkin bisa menggetarkan hatinya..
Kehadiran mungkin bisa sedikit mengobati kerinduan kalian berdua,
Tetapi cukupkah hubungan saling cinta di kehidupan ini tanpa harta benda?..

Apa kelak kehidupan cinta kalian hanya dibina dengan kata-kata?..
Apa kelak hubungan cinta kalian hanya cukup sekedar pacaran?..
Apa cuma sebegitukah hubungan cinta yang kalian jalani untuk kedepannya?..

Pacaran sekarang butuh hp buat sms atau telp...
Kalau kalian bisa membaca tulisan ini tentu saja kalian punya hp,setidaknya pemakai jasa internet,
Kalian perlu pulsa buat sms atau telp walau hanya sekedar menanyakan kabar,
Bagaimana rasanya tanpa hp atau koneksi untuk menghubunginya?..

Bukankah sekarang masa pacaran saja kalian sudah butuh harta benda apalagi untuk ke jenjang selanjutnya?..
Terlalukah kita mengedepankan kata cinta jika tak sepadan dengan realita?..
Buat mencukupi diri saja sudah keteteran,bagaimana nantinya bila tanpa persiapan?..

Memang rizki ada yang mengatur tapi setidaknya persiapkanlah dirimu sendiri...
Cinta ke jenjang selanjutnya bukan hanya kata-kata tapi tanggungjawabmu bagaimana..
Sejauh hubungan masa pacaran sejauh itu realita nya memenuhi diri sendiri,bukan berdua khan..
Coba saja fikirkan baik-baik..

Kesibukan ketika sendiri dan ketika kesibukan saat sudah mempunyai tanggungjawab sebagai suami-istri..
Apakah kalian sudah cukup puas menjalin cinta hanya sekedar pacaran saja?..
Bagaimana tanggapan para wanita jika cuma jadi pacar saja tanpa keseriusan tuk menikah?..
Bagaimana sakitnya perasaan jika kesemua itu cuma omong kosong berdalih cinta hanya untuk mengelabui dan memuaskan keinginan sendiri lantas ditinggalkan begitu saja untuk mencari lagi yang bisa diajak bersenang-senang?..
Apakah kalian tidak memikirkan hari tua kalian?..
Apakah kalian akan tetap abadi menjadi muda dan tak pernah menjadi tua?..
Ketampanan..
Kecantikan..
Semua itu akan mengeriput...
Kebanggaan kalian pun akan diabaikan seiring waktu,
Akan jua kita tergantikan oleh yang muda-muda,
Maka kesombongan dan keangkuhanmu akan menyesalkan dirimu sendiri,
Tak selamanya kau tetap cantik atau tampan..
Tak selamanya kau bisa hidup tanpa mengalami kematian...

Fikirkan baik-baik..
Persiapkanlah atas dirimu sendiri dengan melihat dirimu sendiri,
Karna itu jauh lebih memejamkan pemahaman dirimu sendiri untuk lebih memperbaiki,
Buat apa mencari kesalahan jika hanya tak mampu membangun diri sendiri jadi lebih baik bukan?!!..

Sesuatu tentang CINTA..

Malam kian meninggi pun pekat menyelubungi...
Hendak ku sulam berjuta rasa membongkah menjadi rajutan tak sepi,
Apalah daya sepi tetap menggaungkan sunyi.

Aku tak berdiri menatap langit kelam...
Tenggelamkan sisi bathinku mengemasi setiap rasa yang bergolak malam ini,
Aku rindu pada percikan damai yang pernah kau semaikan,
Pada perdu-perdu aku pun goyah menyedihkan.

Kemana dirimu yang pernah melaburiku dengan rasa nyaman...
Harus ku titi kembali diantara semak-semak cemas rasa bathin menggumam,
Menyisir amarah dan kesedihan yang melonjak-lonjak.

Hatiku membutuhkan kelembutanmu...
Bukan sisa kasihsayang yang terlumuri oleh pemikiran,
Kita saling mengasihi dan menyayangi,
Bukan mengadu argumen untuk saling memenangi.

Nyanyian Burung Menjelang Senja

Harus ku bangun lahan sendiri...
Ku tumbuhkan keyakinan dengan siraman hujan,
Ku petik ceceran sinar mentari dan ku dulang cahaya bulan,
Ku bangkitkanlah KEHIDUPAN hatiku sendiri..

Aku tanam padi di ladang kering..
Aku berai butirannya menyibak ruah air bah,
Aku jangkiti segenap diriku sendiri,
Maka HIDUP lah hatiku atas diri sendiri.

Lembut tak terjamah...
Beralih rupa mengundang tanya...
Aku ke-HIDUP-an alam semesta,
Aku semesta alam ke-HIDUP-an.

Ku garu-garu cerita tak lapuk nan berdebu...
Ku sisihkan cakar-cakar di tepian ,
Ku susuri laju demi laju titian memuncak kemulyaan,
Berat laku ku harus tetap ku lakukan.

Oh..Para burung pencari makan kesejahteraan badan...
Oh..Para burung penempuh jalan ke-ABADI-an...
Jangan tersesat dalam laju keinginan..

Lihatlah...
Pintu-pintu sang Maha Raja selalu terbuka pengampunan,
Terpikatlah pada wajah-Nya,
Mabuk lah bersamanya.

Seberapa pedih siksa rindumu pada ke-FANA-an...
Seberapa menyedihkan kehilangan pada keterpesonaan atas gambar-Nya...
Tak sebanding ketika terlambat berkesadaran diri beserta-Nya.

Kata-kata mu hanyalah api yang membakar dirimu sendiri...
Sajak-sajak mu hanyalah buih kosong memabukkan,
Sia-sia dan mati sia-sia.

Jika Tak Cinta dia...

Jangan beri dia harapan dengan lebih dari kebaikan2 dari sekedarnya...
Jangan terlalu menciptakan peluang yang bisa membuatnya salah memahami,
Jangan permainkan hatinya hanya karna kau suka cara nya mencintaimu,
Dan jangan yaqinkan dia bahwa kau mencintainya sementara hatimu berpaling.

Jika tak cinta dia...
Tak seharusnya harus membenci atau menyisihkannya,
Tak seharusnya kau murka karena perasaan cinta itu adalah kehendak-Nya,
Dan tak seharusnya kau merusak hubungan baik hanya karna kejujurannya.

Jika tak cinta dia...
Hormatilah dan jaga perasaan agar tak melukainya,
Sebisa mungkin tetap baik tanpa harus dengan sengaja ataupun angkuh mengacuhkannya,
Meski tetap kan kecewa tapi biar waktu dan itu jadi satu hal yg mendewasakannya.

Jika tak cinta dia...
Bukan berarti kelak tidak mungkin dirimu tak mencintainya,
Bahkan bisa jadi mungkin itu akan menguji seberapa baik kau menyikapi dan menghormati anugrah-Nya,
Sebab cinta bukan ditujukan untuk mencerai-beraikan hati-hati manusia,
Tetapi mengumpulkannya dalam ketentraman.

Jika tak cinta dia...
Berlindunglah pada-Nya,
Berbuat baik lah,
Semoga Berkah dan Rohmat-Nya senantiasa tercurah untuk kita semua..
Amien..

Archives