06 Mei 2009

.."Bayang-bayang di ruang malam"..

Kekasih-kesayanganku...
Merebak hanyut dalam keheningan temaram bintang,
Lentera yang padam semakin pengap di ruang malam,
Helai-helai dedaunan handai di denyar angin.
Saat malam semakin lengang...
Bisu jasadku memanggil mengemban usik,
Lolos terbujur tak terbeban,
Alunkan lamat suara di kejauhan tertangkap,
Lahir buah kerinduan seiring datang,
Tanpa tangan bergandeng memuji dan merasakan..
.."Agungnya perasaan ini"...
Hati pun serasa di kelitik manisnya kenangan,
Indah-indah yang teraih menjadi kesayangan,
Dan do'a pun terucap meski hanya di dengar nurani.
Bayanganku semakin mengindahi waktu...
Wujud-wujudnya menjadi harapan tak terusik,
Teringat janji-janji dalam suatu perjalanan meski panjang dan beraral,
Nyatanya di tempuh jua dengan rasa percaya.
Pemberian akhirnya menggoda...
Hidup dalam kehilangan dalam waktu,
Hidup dalam kejauhan yang memisah jasad,
Dan semakin lekat lagi dekat,
Untaian kata hati rapi terajut nurani,
Yaqin meski di guncang prahara perih..

05 Mei 2009

.."Kosakata Cinta"..

Semakin larut malam dalam waktunya...
Semenjak waktu tulis ini menghargai tiap-tiap detik,
Menit-menit yang bergulir menyusul angin yang mendesir,
Di iringi juga embun-embun.
Suara kawan sehamba menjadi teman rasa...
Di tuai telinga menuju rasa dzauq,
Nurani pun menyuarakan lembut-lembutnya,
Sesuai pesan perasaan,tangan pun menggurat;
Kini mulai ku awali...
Menggubah keheningan dalam ruang bisu,
Membiarkan nurani beracak kalimat-kalimat indah,
Perlahan aral pun terbuka..
Ku tenun kosakata merajut sepi dalam ruang malam...
Semakin hari ku cari peristiwa nya,
Rinai-rinai duri kasih ku pilah dari kesenangan-kesenangan,
Ku sembulkan belas kasih hati dari yang tersayang,
Dan kisi-kisi nya pun teteskan airmata nan terdalam.

.."Semoga.."..

Semoga kau mengerti...
Arti tatapan matamu bagiku,
arti sepatah kata mu bagiku.
Kalaupun nanti,segala ini hancur...
Selayaknya itu,ku sadari itu.
Sebagaimana ketika aku pertama mengenalmu,
mengagumi kenyataan-kenyataan yang telah terjadi,
saat-saat bersamamu.
Semoga engkau mengerti...
Harapan ini akan selalu ku kenang,biar bagaimanapun adanya.
Semoga kau tahu...
Ada perasaan yang mengagumimu,bahkan lebih dari sekedar perasaan kagum terhadapmu..

.."Asa membimbang"..

Ku biaskan pengaduanku pada kenyataan...
Terik matahari,hamparan padang ilalang,ku gambar di sela-sela cemas.Burung-burung yang terbang,angin yang mendesir,segalanya ku rangkum menjadi dendangan yang menghiris.
Tega rasanya telah dilakukan...
Sebaris rambutku semburat ke raut wajah,coba ku sirnakan dengan jari-jari menyisir...
Mulai ku gores-gores alami nya alam,impulse-impulse nya mengharum dalam pandangan.Ku gambarkan lautan-lautan dan jurang-jurang terjal,sebagai awal ku mencoba sisipkan sepi di penghantar lengangnya hati.
Bisu...
Bibirku terkatub dalam ruangnya,jiwa pun berkecamuk di alamnya.Tubuh ini seraya terbengkalai bak percuma..Sedu sedannya perasaan di harumi pahitnya impian dan kenyataan yang semakin lama kian riangnya menari di kedukaan ini.
Tiap bergoyang rumput ilalang ku raih...
Berhanyut pendapat dari jiwa ini bergelayut mengikut,seolah aku sendiri dalam ketololan yang memang ku sengaja.
Begitu kehilangan rasanya...
Sembari aku menutup mata untuk semua senyuman yang coba tawarkan segelas madu pengharapan,ku singkirkan tingkah-tingkah yang selama ini mengoda perasaan.
Aku sadari...
Betapa kini aku merasakan kehilangan yang dalam,
meski hanya sekedar pengharapan untuk pertemuan,
meski dia takkan pernah datang dalam penantianku ini.

.."Renjana Hati"..

Bayangan silam yang membekas dalam...
Kenangan tercucur harum mengalun dalam irama tembang,gita pagi merenda di antara rapsody cinta,lalu elegi itupun menghujam dada untuk yang terakhir kalinya.
Dan sirnalah segalanya...
Seketika,tatkala usia senja menutup horison di mataku.
Malam larut tiada kian hening...
Terselip sisip lembar-lembar kasih di hari lalu,yang menguap karena embun peristiwa,memuai bersama desir rasa yang menggugah.
Aku cari kembali serpih-serpih kasih yang hampir hilang dan sirna bersama kurun waktu...
Terlangkah jiwaku mengusik pita-pita lama,susunan cinta kasih nan melembut di hati.
Ku ucap kembali dan ku goreskan jua...
Terbawa hampa sesekali teringat perjalanan silam,duduk manis menimang sebuah bayangan indah,yang melara hati sekaligus tercinta.
Ku benci sayatannya itu...
Kisah-kisah pun terlukis kembali diantara alur peristiwa kasih,lalu di rimbunan resah ku kuapkan desah,coba mengusir lara..satu langkah tuk hindari kepedihannya.
Tulangku yang lelah meminta berhenti,namun langkah-langkah jiwa dan hati tiada kunjung menyadarinya...
Itu mau dari perasaanku yang di guncang renjana,sebuah perjalanan jauh susuri jeram rasa nan terjal dan teramat curam.

04 Mei 2009

…SERIBU SENJA DI HATI…

Aku sandarkan diriku diantara rentetan gemuruh di dada ini…
Menggelegaklah sepi…
Mencoba menidurkan bathinku yang sedari tadi memberontakkan ketidakpercayaan atas semua kenangan-kenangan manis di masa lalu.
Seperti seonggok kayu yang tertancap di tengah samudera lepas…
Tak tertancap tetapi justru terombang-ambing di hempas lalu lalang ombak,
terseret jauh entah kemana dan tak tahu lagi harus bagaimana.
Seribu senja ku…
Hanya nanar mata ini menumpu di sudut bumi nan letih mengemban harap,
nista tak terkira pada hati sendiri,
pada jiwa sendiri dan pada segenap impian indah tentang arti abadinya kebersamaan penuh cinta serta kasih sayang yang tercipta…
Terbaik untuk kita…

03 Mei 2009

.."Bilur-bilur Perih"..

.."Dia akan terbiasa tanpaku..",ku yakinkan itu...
Selama ini terlalu besar hatiku berharap,
terlalu banyak hal yang membuatku terpesona padanya,
hingga mampu percikkan cinta di hati.
Tiap saat ku coba perlahan membuatnya mengerti tanpa harus menciptakan goresan luka di hatinya...
Tetapi lain pula segala jadinya,
tajam duri itu pun menghujam dalam sedemikian dalamnya,
hingga hancur harapan ini tuk ku lumat sendiri.
Karena...
Tiap kali aku mendengar dia berkenang cintanya,
tiap kali dia menguak nama kekasihnya,
tiap itu pula hatiku mengharu biru.
Terlalu santun ia menikam..
Terlalu lembut ia menusuk..
Dengan hanya sebuah tatapan mata..yach..tatapan mata yang selama ini ku kenal penuh kedamaian di hatiku.

.."Bunga di Persimpangan"..

Entah mengapa...
Walau ku tahu ia telah melukai perasaan ini
semakin besar niat untuk lekas membuatnya mengerti.
Apakah selama ini dia sengaja tiada memahami...
Terus benakku kala pernah ku tangkap sesuatu
tentang tatapan mata itu telah ungkapkan kata hati.
Hingga nyatanya...
Aku pun menempuh hari-hari dalam sisi nya,
Kalaupun apa yang kurasakan benar dia kehendaki.
Andai tidak...
Aku harus puas menemaninya,
harus puas merawat luka bekas cubisannya.
Karena ku tahu...
Kejujuranku saat ini hanya kan menyentak hati,
hanya kan meluluhkan perasaan indah ini.
Terimakasih...
Walau benih luka telah kau tabur di hati,
namun kau telah memberi indah di hariku kemarin,
meski sekejap terkecap lalu sirna di perjalanan.

.."Semoga Kau Mengerti"..

Pada pagi yang hampir di genapi sinar mentari...
Kala berkehendak nurani,
menyeruak rerimbunan dahan-dahan kering,
serasa kolokan aku dibuai mipi.
Kebimbangan yang mengharungi..
Kebisuan yang terbeban..
Menyerpih serak di kuliti kenangan.
Kenyataanpun mencoba hadir...
Ada tatap mata yang mengusik,
ada tawa yang menyemai hati ini.
Aku sadar...
Perasaanku kini menemui kelembutannya,
seolah mengingini dia hadir bukan sekedarnya,
melainkan seorang yang memberi arti tersendiri.
Mungkin aku pengecut...
Tak berani mengatakan arti getar dalam perasaan ini,
tak mampu jujur menyatakan yang sesungguhnya,
namun aku kan selalu mencoba membuatnya fahami ini semua.

.."Dalam Semak Cemas"..

Hanya titik gerimis air hujan...
Tatkala aku menemani kerinduannya dalam remang lentera.
Langit kelam coba ku pandang...
Ku seruak dari sela-sela helai daun-daun bambu.
Sekali lagi ku coba...
Ku beri kuasa dia dalam segala yang semestinya,
manakala bathinku di guyur haru atas cinta kasihnya.
Betapa bahagia hati...
Segala yang dulu nanar di mata,kini telah terbasuh kepercayaannya mengasihi.
Hanya bathin yang coba ku tentramkan...
.."Dia tiada akan tinggalkanku.."..yakinku.
.."Tidak seperti masa lalu..",kenangku dalam semak cemas.

.."Di Kisi-Kisi Jendela Hati"..

Berapa kali lagi aku harus berusaha...
Sekali waktu ku nyalakan lilin di ruangan ini,
dan seperti tampak kenangan-kenangan itu tertata dengan bingkai-bingkai lara di kisi-kisi jendela hati.
Dan pada suatu pagi...
Manakala hujan tinggal gerimis
di tengah-tengah titik gulir gerimis itu..
yang pada detik sama juga menitik dari dedaunan,ku seruak jua kelebatannya dengan angan.
Dua bola mataku sudah jauh lebih dulu memaku dan terbentur di dinding rumah,tetapi benakku lepas serta lolos menembus ke dalamnya..
Hingga masuk dan masuklah aku pada peristiwa yang memagutku selama ini,
masuk dalam dimensi masa lalu beserta waktu-waktu yang telah terlewati.
Ah...
Titik air yang menetes dari dedaunan,menyamakan waktu peristiwa yang sulit terlupa.
Beningnya tak mampu kurasakan...
Hanya mampu ku pandang dan ku pandang mengalirnya ke sela-sela nurani.
Sayang sekali...
Bathinku telah luruh di semai peristiwa itu,
hingga ngilu itu pun mencuil basah kegenapan rindu yang ku rasakan.
Entah berapa musim sudah terlalui...
Semuanya tiada terfikir lagi olehku,sebab kenangan itu bergayut mengisi hati nan perih ini.

.."Arti Setia baginya"..

Dia menanggung beban dari waktu ke waktu...
Terpikul di atas pundaknya sebuah cinta,
membebani hatinya dari kerinduan pada yang terkasih.
Dia mengurung diri...
Memecah waktu melawan kehendak nurani,
mencoba mengingkari dan melupakan segala hal.
Namun dia menyadari...
Cinta di hatinya bukan sekedar pelipur dalam lara,
tetapi awal dia mengenal sebuah kepribadian yang abadi,
tentang lagu-lagu indah dalam sebuah novel.
Dia harus memutuskan...
Hatinya pun mengarah pada ketika benaknya menumpu,
dan bibirnya telah mengucapkan kata cinta buat yang terkasih.
Kini pun dia jalani...
Mencintai sang terkasih walau apapun jua adanya,
menerimanya meski dalam sebuah pertikaian bathin.
Sebab dia sadari...
Itulah yang seharusnya dan yang di tuntut nurani,
semestinya..laksana cinta mula yang berpijak di hati.

Archives