Dan wanita itu mustinya jadi salahsatu Cahaya...
Tak peduli semodern apa keadaan zaman sekarang ini,
Mengikuti arus globalisasi sah-sah saja,
Tetapi tidak melupakan jati diri siapa apa dan bagaimana wanita itu.
Semoga lah wanita tetap menjadi Tiang yang kokoh...
Setiap budaya boleh saja diketahui tapi tidak dicampur adukkan,
Kehormatan wanita bukan saja terletak pada Gaulnya dalam pergaulan,
Tetapi juga ke-Sholehan hati.
Wanita dan jabatan,kecantikan serta kekayaan...
Tidak akan dibawa MATI,
Ingatlah MATI..
Sebelum menyesal bahwa semua itu takkan menyelamatkan,
Sebab sejak saat itu penyesalan hanya tinggal penyesalan.
Aku juga melihat banyak wanita di belahan dunia ini...
Tak semua berada dalam situasi yang mudah,
Semoga lah mereka terjaga dari segala bentuk alasan menjatuhkan kehormatan sendiri,
Meskipun tak bergelimang gemerlap kemewahan.
Tuhan Maha Adil dan Maha Kaya...
Semoga lah mereka tidak menjadikan kesulitan materi sebagai upaya menjatuhkan kehormatan,
Semoga lah mereka diberikan niat dan keinginan kuat terus berusaha mencari rizqi-Nya,
Tanpa harus malu dengan pergaulan asalkan halal mereka tetap tabah menjalani kehidupan.
Tuhan Maha Kuasa dan Maha Pedih siksanya...
Semoga lah mereka yang telah diberi kemudahan tetap mensyukuri nikmat-Nya,
Tak terbius oleh kemudahan rizqi yang didapat dan berfoya-foya,
Ataupun tak berlebihan dan sombong atas yang lain.
Wanita tetap lemah sekuat apapun dia...
Tetap lembut sekejam apapun yang dilakukannya,
Tetapi bukan berarti selemah tanpa kuasa,
Maka sebaik-baik kekuatan adalah kelemah-lembutan.
Terjaga lah wanita-wanita-Nya...
Yang menjaga diri,menetapi dan tetap melihat-Nya,
Penyerahan diri pada-Nya adalah Cinta dan sebaik-baiknya cinta,
Bukan penyerahan diri pada lain-Nya.
Yang mengalun memecah sunyi,tatkala kesendirian merasuk dan manakala hati terbuai dalam balur tak bernama..Tersenyum sendiri..Terbuai mimpi..Lalu terhenyak sirna tanpa kata.
14 Januari 2011
Bukan Pujangga dengan Puisinya...
Aku berdamai dengan jiwa dan hatiku...
Semenjak terus menerus ku langlangi tak putus asa,
Bukan mengalir ke tempat yang lebih rendah untuk mengikuti,
Bukan pula luluh terbakar tersebab membakar diri sendiri.
Bukankah jalan damai dengan diri sendiri harus memerangi?..
Kontradiksi jiwa dan hati kian bergelora...
Tidak lentuk karena pernah salah menyikapi ego,
Tidak juga terlalu keras mendokrin kepercayaan untuk mencapai keyaqinan,
Berbahagialah para Hati yang telah mencapai kedamaian.
Syurga mu di hati...
Melebur dalam badani,
Menyatu jiwa raga,
Berbahagialah jiwa-jiwa merdeka.
Jadi burung yang terbang bukan karena harus bersayap..
Tetapi jika sayap hanyalah perlambang untuk bisa terbang tinggi menuju kemulyaan,
Maka bersayap lah lebih dari sayap-sayap yang dimiliki setiap burung,
Bersayap lah dengan sayap abadi dan bukan sayap yang mudah patah.
Semenjak terus menerus ku langlangi tak putus asa,
Bukan mengalir ke tempat yang lebih rendah untuk mengikuti,
Bukan pula luluh terbakar tersebab membakar diri sendiri.
Bukankah jalan damai dengan diri sendiri harus memerangi?..
Kontradiksi jiwa dan hati kian bergelora...
Tidak lentuk karena pernah salah menyikapi ego,
Tidak juga terlalu keras mendokrin kepercayaan untuk mencapai keyaqinan,
Berbahagialah para Hati yang telah mencapai kedamaian.
Syurga mu di hati...
Melebur dalam badani,
Menyatu jiwa raga,
Berbahagialah jiwa-jiwa merdeka.
Jadi burung yang terbang bukan karena harus bersayap..
Tetapi jika sayap hanyalah perlambang untuk bisa terbang tinggi menuju kemulyaan,
Maka bersayap lah lebih dari sayap-sayap yang dimiliki setiap burung,
Bersayap lah dengan sayap abadi dan bukan sayap yang mudah patah.
Inilah hatiku,sayang..........
Inilah hatiku,sayang...
Berapa puluh lagi hati merasa terhujam oleh jiwa marah dan asmara luka,
Berapa puluh waktu lagi kau pancangkan di depan mata mengurai segala makna baik tentangmu.
Bagaimana bisa ku terima cinta mu jikalau realita dalihnya berbeda?..
Bagaimana bisa ku rengkuh lagi hatimu kalau ternyata sebegitu mudahnya goyah?..
Bagaimana bisa ku imankan kasih sayangku padamu kalau ternyata secuil kehampaan dan luka yang sama menimpa justru di jadikan alasan tuk pergi?..
Sebegitukah rasa yang berbuih-buih itu kau nyatakan untukku..
Sampai sebegitu lemahnyakah kenyataan cintamu?..
Kau hanya fikirkan dirimu sendiri,hatimu sendiri..
Kau seperti tak melihat ada hati yang lain yang juga sama terlukanya..
(blackshadow)
Berapa puluh lagi hati merasa terhujam oleh jiwa marah dan asmara luka,
Berapa puluh waktu lagi kau pancangkan di depan mata mengurai segala makna baik tentangmu.
Bagaimana bisa ku terima cinta mu jikalau realita dalihnya berbeda?..
Bagaimana bisa ku rengkuh lagi hatimu kalau ternyata sebegitu mudahnya goyah?..
Bagaimana bisa ku imankan kasih sayangku padamu kalau ternyata secuil kehampaan dan luka yang sama menimpa justru di jadikan alasan tuk pergi?..
Sebegitukah rasa yang berbuih-buih itu kau nyatakan untukku..
Sampai sebegitu lemahnyakah kenyataan cintamu?..
Kau hanya fikirkan dirimu sendiri,hatimu sendiri..
Kau seperti tak melihat ada hati yang lain yang juga sama terlukanya..
(blackshadow)
" PENERIMAAN TANPA SYARAT "
Saya adalah ibu dari seorang anak dan baru sajamenyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. .
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling".. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus... Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering...! Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, dan... tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil...!
Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.....Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum"kearah saya.... Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam... tapi juga memancarkan kasih sayang...!
Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu... Ia menyapa "Good day..!"
sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin.. setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka..., dan kami bertiga tiba-2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan...Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir... Nona !"
Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba-2 saja saya diserang oleh rasa iba... membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-2 lainnya, yang hampir semuanya...sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya..., dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya...
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya
tersenyum... dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. .. saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap.. "makanan ini
telah saya pesan untuk kalian berdua...."
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2... dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya...." Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata... "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian...." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu....
Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya... mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan'dengan kami... Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap.. "tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini...., jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami..." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami...! Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan 'hidayah' bagi saya..., maupun bagi orang-2 yang ada disekitar saya saat itu.
Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Allah" itu sangat HANGAT dan INDAH sekali...!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca.... para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi... Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam
membawakan ceritanya... membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ... "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu..."
Dengan caraNYA sendiri, Allah telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus... dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu : "PENERIMAAN TANPA SYARAT".
Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara.... MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI...., bukannya...MENCINTA I HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA,...DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA...!
Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama... yang sedang membutuhkan uluran tangannya... !
Orang bijak mengatakan :
- Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu. .., tetapi hanya 'sahabat yang bijak'yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
- Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu... Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu...!
- Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak; Orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak...! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya..!
-Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka,... hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.
-Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni.... Belajarlah
dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.
Cerita menarik dari negeri jauh
(Copy Paste)
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling".. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus... Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering...! Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, dan... tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil...!
Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.....Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang
lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum"kearah saya.... Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam... tapi juga memancarkan kasih sayang...!
Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu... Ia menyapa "Good day..!"
sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin.. setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka..., dan kami bertiga tiba-2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan...Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir... Nona !"
Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba-2 saja saya diserang oleh rasa iba... membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-2 lainnya, yang hampir semuanya...sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya..., dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya...
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya
tersenyum... dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. .. saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap.. "makanan ini
telah saya pesan untuk kalian berdua...."
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2... dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya...." Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata... "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian...." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu....
Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya... mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan'dengan kami... Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap.. "tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini...., jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami..." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami...! Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan 'hidayah' bagi saya..., maupun bagi orang-2 yang ada disekitar saya saat itu.
Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Allah" itu sangat HANGAT dan INDAH sekali...!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca.... para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi... Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam
membawakan ceritanya... membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ... "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu..."
Dengan caraNYA sendiri, Allah telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus... dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu : "PENERIMAAN TANPA SYARAT".
Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara.... MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI...., bukannya...MENCINTA I HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA,...DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA...!
Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama... yang sedang membutuhkan uluran tangannya... !
Orang bijak mengatakan :
- Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu. .., tetapi hanya 'sahabat yang bijak'yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.
- Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu... Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu...!
- Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak; Orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak...! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya..!
-Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka,... hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.
-Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni.... Belajarlah
dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.
Cerita menarik dari negeri jauh
(Copy Paste)
Sederhana
Seseorang pasti punya kesalahan di masa lalu..
Seseorang pasti pernah merasa berbuat baik..
Seseorang pasti pernah merasa jauh lebih baik karna seseorang yang lain..
Dan seseorang itulah yang membuat semua jadi lebih baik..
Diakui jujur atau tidak,seseorang bisa menjadi lebih baik karna yang lain.
Dan dia menjadi salahsatu yang terbaik,yang pernah di miliki..
Seseorang pasti pernah merasa berbuat baik..
Seseorang pasti pernah merasa jauh lebih baik karna seseorang yang lain..
Dan seseorang itulah yang membuat semua jadi lebih baik..
Diakui jujur atau tidak,seseorang bisa menjadi lebih baik karna yang lain.
Dan dia menjadi salahsatu yang terbaik,yang pernah di miliki..
Sesaatpun ku mau
Biar kamu rahasia dlm hatiku...
Tlah ku miliki itu tanpa tiada seorangpun tahu,ku pendam jauh sedalam-dalamnya.
Biar itu tetap jadi milikku...
Walau ku tahu sekejap bertemu lalu hilang di rerimbunan kata,aku telah merasa cukup bahagia bisa dekat dengannya.
Biar semuanya berjalan,apa adanya...
Aku tak mau perasaan indah nan meluka ini akan membuatnya justru pergi dan menjauh dariku hanya karna keinginan ego ku sendiri.Aku sudah cukup bahagia bisa menemani nya dan ada saat dia menginginkan,sejauh yang aku bisa lakukan untuknya..aku terima
Tlah ku miliki itu tanpa tiada seorangpun tahu,ku pendam jauh sedalam-dalamnya.
Biar itu tetap jadi milikku...
Walau ku tahu sekejap bertemu lalu hilang di rerimbunan kata,aku telah merasa cukup bahagia bisa dekat dengannya.
Biar semuanya berjalan,apa adanya...
Aku tak mau perasaan indah nan meluka ini akan membuatnya justru pergi dan menjauh dariku hanya karna keinginan ego ku sendiri.Aku sudah cukup bahagia bisa menemani nya dan ada saat dia menginginkan,sejauh yang aku bisa lakukan untuknya..aku terima
Tak seHarusnya
Aku berharap tentang dia di hari ini...
Tak semestinya berharap dia datang dan menyatakan hati,walau hanya sekedar rindu.
Tak selayaknya aku merasa begini...
Bagai terbiar sepi di antara kesendirian yang ku pilih,hanya tatapan mata rintih memandang dua mata di balik kaca.
Apa arti ku pinta itu semua...
Bagai takut dia menghilang dariku,merasa takut dia menjauhiku,merasa tak sebanding menyatakan rindu pada hati yang tak semestinya tuk ku harap ada untukku..
Tak semestinya berharap dia datang dan menyatakan hati,walau hanya sekedar rindu.
Tak selayaknya aku merasa begini...
Bagai terbiar sepi di antara kesendirian yang ku pilih,hanya tatapan mata rintih memandang dua mata di balik kaca.
Apa arti ku pinta itu semua...
Bagai takut dia menghilang dariku,merasa takut dia menjauhiku,merasa tak sebanding menyatakan rindu pada hati yang tak semestinya tuk ku harap ada untukku..
Kenangan bersamamu....
Ada sebentuk kelukaan yang meleleh disini...
Sisa dari guratan hati tentang perasaan yang saling mencinta,
Sisa dari impian indah jiwa tentang bahagia di hari nanti.
Betapakah kini semua itu menguap begitu saja...
Tak ada tangan yang mendekap erat,
Tak ada kata "henti" tuk menhalangku pergi,
Semua berlalu menyisakan sepi.
Perihnya harus terpisahkan darimu...
Walau bukan mauku tetap saja ku musti terima,
Meski bukan kesengajaan tetap jua harus diakhiri,
Aku berusaha mengerti.
Begitu ironisnya perasaan cinta ini...
Kesetiaanku pun tak sanggup menahan kau pergi,
Kerelaanku pun tak jua bisa membuatmu tetap bersamaku,
Aku berusaha menerima.
Aku yang masih mencintaimu...
Senantiasa percaya betapa perasaanmu takkan berubah,
Selalu ku yakinkan diriku berkali-kali dalam setiap dilema,
Meski kau akhirnya memilih pergi,
Aku senantiasa tak pernah membenci.
Ku cintai dirimu demi kita di masa nanti...
Biar ini tetap ku simpan tanpa sedikitpun menyalahkan masa lalu,
Aku tetap menatapmu dengan indah,
Sebagaimana aku yang dulu mencintaimu dan takkan hendak mengubahnya.
Sisa dari guratan hati tentang perasaan yang saling mencinta,
Sisa dari impian indah jiwa tentang bahagia di hari nanti.
Betapakah kini semua itu menguap begitu saja...
Tak ada tangan yang mendekap erat,
Tak ada kata "henti" tuk menhalangku pergi,
Semua berlalu menyisakan sepi.
Perihnya harus terpisahkan darimu...
Walau bukan mauku tetap saja ku musti terima,
Meski bukan kesengajaan tetap jua harus diakhiri,
Aku berusaha mengerti.
Begitu ironisnya perasaan cinta ini...
Kesetiaanku pun tak sanggup menahan kau pergi,
Kerelaanku pun tak jua bisa membuatmu tetap bersamaku,
Aku berusaha menerima.
Aku yang masih mencintaimu...
Senantiasa percaya betapa perasaanmu takkan berubah,
Selalu ku yakinkan diriku berkali-kali dalam setiap dilema,
Meski kau akhirnya memilih pergi,
Aku senantiasa tak pernah membenci.
Ku cintai dirimu demi kita di masa nanti...
Biar ini tetap ku simpan tanpa sedikitpun menyalahkan masa lalu,
Aku tetap menatapmu dengan indah,
Sebagaimana aku yang dulu mencintaimu dan takkan hendak mengubahnya.
Aku tersenyum...
Aku bisa terima semua ini...
Tak harus ku membenci ataupun berniat tuk menjauhi,
Aku memperhatikan dan aku tersenyum..
Aku mengerti...
Jika ku pinta pun ku tak yakin bisa membuatnya terus bahagia,
Tetap saja kan ada luka dan kecewa,
Itu hanya soal waktu..
Jika dulu dia mengira kan bahagia bersamaku,itu dulu...
Ketika dia masih dipenuhi keinginan yang besar tuk memilikiku,
Tetapi ketika keinginan itu tak terpenuhi,
Dia baru mengatakan tak bahagia.
Aku tersenyum...
Sejauh mana perasaannya bisa tetap mencintai dan tetap menjaga itu,
Sepertinya dia tak pernah yakin meski dia tahu cinta itu kan menyatukan yang terpisah dan berbeda,
Itu sebabnya dia melangkah pergi dan tak bisa setia dengan perasaannya sendiri..
Aku tersenyum...
Cinta yang tulus dan setia yg perna diungkapnya hanya seuah kata-kata,
Sajak perih sebuah keibginan yg belum terpenuhi,
Atau mungkin hanya syair penggugah para hati,
Sekedar susunan kata yang terbingkai oleh kesendiriannya sendiri.
Bagaimana dia bisa membuat hati mencinta,sementara dia tak bisa setia dengan perasaannya sendiri?...
Kata-kata ditaburkannya agar membuatnya tetap mewangi...
Apakah dia juga tahu bahwa kata-kata itu kan berlalu dan dilupakan jua kelak?...
Aku melihat hatimu dari kata-katamu sendiri...
Betapa kepandaian hanya tabir kesepian hatimu sendiri,
Syair-syair tak ubahnya keniskalaan dan dilema hatimu dalam memilih,
Apakah terlalu banyak hati yang kau pertimbangkan dengan dalih mencari kebahagiaan?..
Apakah dengan semua pertimbangan fikiran itu adalah jawaban kebenaran hatimu?...
Semua itu hanya kan membuatmu tetap bimbang...
Tak ada keberanian memilih dan menempuh kehidupan dengan semua konsekwensinya,
Lantas bagaimana bisa kau menemukan kebenaran dari bahagia mu yang kau maksudkan?..
Aku tak berpaling dan tak berlalu dari mu...
Aku mengawasi dan aku tersenyum memahaminya,
Tak untuk ku intervensi dirimu dengan pemahamanku,
Biar semua tetap berjalan semestinya,
Hingga semuanya tampak jelas nanti,bagku dan bagi dirimu sendiri..
Tak harus ku membenci ataupun berniat tuk menjauhi,
Aku memperhatikan dan aku tersenyum..
Aku mengerti...
Jika ku pinta pun ku tak yakin bisa membuatnya terus bahagia,
Tetap saja kan ada luka dan kecewa,
Itu hanya soal waktu..
Jika dulu dia mengira kan bahagia bersamaku,itu dulu...
Ketika dia masih dipenuhi keinginan yang besar tuk memilikiku,
Tetapi ketika keinginan itu tak terpenuhi,
Dia baru mengatakan tak bahagia.
Aku tersenyum...
Sejauh mana perasaannya bisa tetap mencintai dan tetap menjaga itu,
Sepertinya dia tak pernah yakin meski dia tahu cinta itu kan menyatukan yang terpisah dan berbeda,
Itu sebabnya dia melangkah pergi dan tak bisa setia dengan perasaannya sendiri..
Aku tersenyum...
Cinta yang tulus dan setia yg perna diungkapnya hanya seuah kata-kata,
Sajak perih sebuah keibginan yg belum terpenuhi,
Atau mungkin hanya syair penggugah para hati,
Sekedar susunan kata yang terbingkai oleh kesendiriannya sendiri.
Bagaimana dia bisa membuat hati mencinta,sementara dia tak bisa setia dengan perasaannya sendiri?...
Kata-kata ditaburkannya agar membuatnya tetap mewangi...
Apakah dia juga tahu bahwa kata-kata itu kan berlalu dan dilupakan jua kelak?...
Aku melihat hatimu dari kata-katamu sendiri...
Betapa kepandaian hanya tabir kesepian hatimu sendiri,
Syair-syair tak ubahnya keniskalaan dan dilema hatimu dalam memilih,
Apakah terlalu banyak hati yang kau pertimbangkan dengan dalih mencari kebahagiaan?..
Apakah dengan semua pertimbangan fikiran itu adalah jawaban kebenaran hatimu?...
Semua itu hanya kan membuatmu tetap bimbang...
Tak ada keberanian memilih dan menempuh kehidupan dengan semua konsekwensinya,
Lantas bagaimana bisa kau menemukan kebenaran dari bahagia mu yang kau maksudkan?..
Aku tak berpaling dan tak berlalu dari mu...
Aku mengawasi dan aku tersenyum memahaminya,
Tak untuk ku intervensi dirimu dengan pemahamanku,
Biar semua tetap berjalan semestinya,
Hingga semuanya tampak jelas nanti,bagku dan bagi dirimu sendiri..
Skripsi Hati Sepi
Di sisi sebuah sungai aku pernah berteriak lantang...
Berharap bisa meredam gejolak amarahku pada kenyataan,
Pernah juga menghabiskan malam dengan berpekur sendirian,
Mencoba mengusir kerapuhan dari hati atas kelukaan pemahamanku sendiri.
Aku suka merajuk pada hatiku sendiri...
Membagi segenap penat dan kesedihan tanpa harus membuat keributan,
Walau dengan sadar dan mungkin tak semua orang menyadarinya,
Betapa sikap seperti itu tetap kan membuat kecewa di hatiku sendiri.
Pernahkah kau tanya dirimu sendiri tentang ini...
Bahwasanya mengitari hati sendiri kan tetap melukai sebagian sisi hati kita sendiri?..
Kini ku bahasakan rasa hatiku dengan kalimat-kalimat ini...
Tak kurutuk setiap pemikiran berbeda dari yang beda atas yang terjadi,
Yang pasti aku tak ingin banyak mengeluh ataupun menyanggah realita,
Tak ingn terlalu banyak membenarkan pemikiranku sendiri.
Pernahkah kau tanya dirimu sendiri tentang ini...
Berapa menit kita bisa menerima ridlo yang terjadi dari yang kita harapkan dengan keluh-kesah kita?..
Aku suka menyembunyikan hatiku sendiri...
Berharap bisa menciptakan kenyamanan menjalani realita fikir dan rasa bathin,
Bisa menjadi cahaya diri sendiri,mencahayai orang lain dan orang lain pun begitu,
Apakah aku tak merasakan kecewa karena menempuhnya?..
Pernahkah kau tanyakan pada dirimu sendiri tentang ini...
Bahwa di dunia ini seindah apapun pandangan terhadapnya kan binasa juga?..
Kita bisa dekat..
Kita bisa jauh..
Kita kan saling mendekat..
Kita kan saling menjauh..
Meskipun bukan kemauan dari kita sendiri.
Yang cinta bisa tetap saling mencinta atau hanya satu dari keduanya yang tetap cinta..
Yang benci bisa terus membenci atau menciptakan kebencian pada yang lain,
Atau mungkin bisa menjadi sangat2 benci hingga mata tertutup untuk memaafkan..
Yang rindu semakin tertawan oleh keinginan membuta...
Bukan lagi hanya sekedar bertemu dan bercengkrama.
Yang rindu bisa menggeliat rapuh dalam kebimbangan menunggu,
Atau kan hilang dalam kesedihan membayang rundung.
Berharap bisa meredam gejolak amarahku pada kenyataan,
Pernah juga menghabiskan malam dengan berpekur sendirian,
Mencoba mengusir kerapuhan dari hati atas kelukaan pemahamanku sendiri.
Aku suka merajuk pada hatiku sendiri...
Membagi segenap penat dan kesedihan tanpa harus membuat keributan,
Walau dengan sadar dan mungkin tak semua orang menyadarinya,
Betapa sikap seperti itu tetap kan membuat kecewa di hatiku sendiri.
Pernahkah kau tanya dirimu sendiri tentang ini...
Bahwasanya mengitari hati sendiri kan tetap melukai sebagian sisi hati kita sendiri?..
Kini ku bahasakan rasa hatiku dengan kalimat-kalimat ini...
Tak kurutuk setiap pemikiran berbeda dari yang beda atas yang terjadi,
Yang pasti aku tak ingin banyak mengeluh ataupun menyanggah realita,
Tak ingn terlalu banyak membenarkan pemikiranku sendiri.
Pernahkah kau tanya dirimu sendiri tentang ini...
Berapa menit kita bisa menerima ridlo yang terjadi dari yang kita harapkan dengan keluh-kesah kita?..
Aku suka menyembunyikan hatiku sendiri...
Berharap bisa menciptakan kenyamanan menjalani realita fikir dan rasa bathin,
Bisa menjadi cahaya diri sendiri,mencahayai orang lain dan orang lain pun begitu,
Apakah aku tak merasakan kecewa karena menempuhnya?..
Pernahkah kau tanyakan pada dirimu sendiri tentang ini...
Bahwa di dunia ini seindah apapun pandangan terhadapnya kan binasa juga?..
Kita bisa dekat..
Kita bisa jauh..
Kita kan saling mendekat..
Kita kan saling menjauh..
Meskipun bukan kemauan dari kita sendiri.
Yang cinta bisa tetap saling mencinta atau hanya satu dari keduanya yang tetap cinta..
Yang benci bisa terus membenci atau menciptakan kebencian pada yang lain,
Atau mungkin bisa menjadi sangat2 benci hingga mata tertutup untuk memaafkan..
Yang rindu semakin tertawan oleh keinginan membuta...
Bukan lagi hanya sekedar bertemu dan bercengkrama.
Yang rindu bisa menggeliat rapuh dalam kebimbangan menunggu,
Atau kan hilang dalam kesedihan membayang rundung.
Masih Muda(tentang CINTA): Dari Wanita itu..
Ia punya hati yang tak mudah jatuh cinta...
Yang tak mudah tergetar oleh kharisma wajah dan kedudukan,
Yang tak mudah goyah oleh pergaulan yang mengatasnamakan mode gaul,
Yang tak mudah terbius oleh ajakan kesenangan sejenak.
Ia tetap menjaga kodrat dan kehormatannya...
Tak tergesa-gesa dan memaksakan kehendaknya tanpa melihat kemampuan,
Tak hanya melihat dengan perasaan tapi juga realita dan penjagaan diri,
Menjaga prilaku tidak harus meniadakan tata krama.
Tak harus tampil lebay untuk di hargai dan dipuji...
Tak harus tampil modis agar terlihat cantik demi mendapatkan pujian lelaki,
Tak harus memaksakan diri memiliki sesuatu hanya karena tak ingin dibilang norak,
Lebih norak lagi jika semua itu dilakukan tanpa mengukur kemampuan diri sendiri.
Apa yang kau cari,wanita...
Menjadi wanita sperti dalam tatanan agama,itu jauh lebih terhormat dunia akhiratmu..
Tetapi jika kau menjadi wanita hanya demi memperjuangkan glamournya duniamu kini,
Maka jangan pernah menyesal dan meratapi kenyataan hidupmu nantinya.
Jika usia mu sekarang 18 tahun..19 tahun..20 tahun dan seterusnya..
Kau fahami masih muda dan kau dalihkan sebagai kebebasan berapa saja,
Maka bisa difahami juga kau hanya akan kerap meratap,merutuk dan mencela,
Terkesan selalu hanya keinginanmu yg paling utama dan wajib terlaksana.
Tetapi,Apakah demikian realitanya?..
Kau tetap saja meratap,merutuk dan mencela...
Menyalahkan keadaan,menyalahkan orang lain dan menyalahkan kenyataan,
Seolah kehidupan seharusnya berjalan sebagaimana yang kau rencanakan..
Kau masih muda...
Belajarnya memahami hatimu..jiwamu dan dirimu sendiri..
Belajarlah memahami arti hidupmu,kehidupanmu dan imanmu sendiri..
Karena kehidupan ini bukan hanya soal mode gaul dan lebay mu..
Bukan hanya soal makan dan minum juga kesenangan-kesenanganmu,
Tetapi juga sebrapa kuatnya dirimu menjalani realita kehidupan...
Jangan hanya pandai menangis jika sudah tak tercapai...
Jangan hanya pandai menangis jika kecewa karena sikapmu sendiri,
Jangan hanya pandai menangis dan menyalahkan orang lain..
Jadilah cahaya bukan hanya ketika kau sendirian..
Tetap bercahaya meski kau tak lagi sendiri,
Dan jangan hanya mencahayai dirimu sendiri tapi juga atas orang lain,
Sebab cahaya mu bisa hilang tanpa cahaya yang lain.
Jadilah bunga yang tetap menjadi bunga..
Jika kau melati putih tetaplah menjadi melati putih,
Tetap wangi dan tak berubah esensi oleh keadaan apapun,
Karena hanya dengan begitu kau akan bisa melihat dirimu yang lebih baik.
Jangan jadi bunga yang terbuat dari karet dengan besutan warna-warni...
Yang mudah lentuk dan luntur serta tak wangi lagi,
Jangan hanya jadi bunga yang merasa bisa tetap hidup hanya karena bangga dengan dirinya sendiri,
Sebab indahnya bunga pun karena ragam bunga yang lain,
Dan yang tak bisa dipungkiri adalah karena ia bisa melihat Tuhannya dalam dirinya sendiri..
Yang tak mudah tergetar oleh kharisma wajah dan kedudukan,
Yang tak mudah goyah oleh pergaulan yang mengatasnamakan mode gaul,
Yang tak mudah terbius oleh ajakan kesenangan sejenak.
Ia tetap menjaga kodrat dan kehormatannya...
Tak tergesa-gesa dan memaksakan kehendaknya tanpa melihat kemampuan,
Tak hanya melihat dengan perasaan tapi juga realita dan penjagaan diri,
Menjaga prilaku tidak harus meniadakan tata krama.
Tak harus tampil lebay untuk di hargai dan dipuji...
Tak harus tampil modis agar terlihat cantik demi mendapatkan pujian lelaki,
Tak harus memaksakan diri memiliki sesuatu hanya karena tak ingin dibilang norak,
Lebih norak lagi jika semua itu dilakukan tanpa mengukur kemampuan diri sendiri.
Apa yang kau cari,wanita...
Menjadi wanita sperti dalam tatanan agama,itu jauh lebih terhormat dunia akhiratmu..
Tetapi jika kau menjadi wanita hanya demi memperjuangkan glamournya duniamu kini,
Maka jangan pernah menyesal dan meratapi kenyataan hidupmu nantinya.
Jika usia mu sekarang 18 tahun..19 tahun..20 tahun dan seterusnya..
Kau fahami masih muda dan kau dalihkan sebagai kebebasan berapa saja,
Maka bisa difahami juga kau hanya akan kerap meratap,merutuk dan mencela,
Terkesan selalu hanya keinginanmu yg paling utama dan wajib terlaksana.
Tetapi,Apakah demikian realitanya?..
Kau tetap saja meratap,merutuk dan mencela...
Menyalahkan keadaan,menyalahkan orang lain dan menyalahkan kenyataan,
Seolah kehidupan seharusnya berjalan sebagaimana yang kau rencanakan..
Kau masih muda...
Belajarnya memahami hatimu..jiwamu dan dirimu sendiri..
Belajarlah memahami arti hidupmu,kehidupanmu dan imanmu sendiri..
Karena kehidupan ini bukan hanya soal mode gaul dan lebay mu..
Bukan hanya soal makan dan minum juga kesenangan-kesenanganmu,
Tetapi juga sebrapa kuatnya dirimu menjalani realita kehidupan...
Jangan hanya pandai menangis jika sudah tak tercapai...
Jangan hanya pandai menangis jika kecewa karena sikapmu sendiri,
Jangan hanya pandai menangis dan menyalahkan orang lain..
Jadilah cahaya bukan hanya ketika kau sendirian..
Tetap bercahaya meski kau tak lagi sendiri,
Dan jangan hanya mencahayai dirimu sendiri tapi juga atas orang lain,
Sebab cahaya mu bisa hilang tanpa cahaya yang lain.
Jadilah bunga yang tetap menjadi bunga..
Jika kau melati putih tetaplah menjadi melati putih,
Tetap wangi dan tak berubah esensi oleh keadaan apapun,
Karena hanya dengan begitu kau akan bisa melihat dirimu yang lebih baik.
Jangan jadi bunga yang terbuat dari karet dengan besutan warna-warni...
Yang mudah lentuk dan luntur serta tak wangi lagi,
Jangan hanya jadi bunga yang merasa bisa tetap hidup hanya karena bangga dengan dirinya sendiri,
Sebab indahnya bunga pun karena ragam bunga yang lain,
Dan yang tak bisa dipungkiri adalah karena ia bisa melihat Tuhannya dalam dirinya sendiri..
Sesuatu tentang CintA.........
Ketika Dia menganugrahkan dia(cinta)atas tiap diri,gelisahlah dia(hati)...
Tak ada satupun pengetahuan yang bisa memahaminya(cinta),
Dia(cinta)mengaliri setiap inci kesadaran hingga tiada tersadar telah mabuk atasnya.
Pemahaman awal atas cinta adalah kegelisahan...
Awal dimana pemikiran menjadi buta dan bimbang,
Merasuk kedalam hati dan melemahkan setiap kekuatan yang dimiliki,
Cinta itu telah menghapus semua pengetahuan apapun.
Tetapi dia(cinta)...
Memulihkan kembali pengetahuan dan rasa ingin tahu semakin menjadi-jadi,
Mengoyak pemikiran menjadi berlaksa-laksa tanya jawab yang tak pasti,
Tubuh bak di berangus oleh alirannya,
Kekuatan yang lunglai kembali penuh daya.
Dia(CintA)...
Mengajarkan tata krama mencintai
Mengajarkan adab mengasihi dan memberi,
Mengajarkan tata cara tuk saling menghormati.
Dia(CintA)...
Membuka hijab pemikiran menjadi lebih terang memahami,
Membuka selubung ketidaktahuan menjadi acuan tuk belajar lebih berpengetahuan tentangnya(cinta),
Menjadikan hulu dari semua titik yang menjadi pusat perhatiannya sendiri.
Dia(CintA)di hati...
Menyapu bersih setiap cela menjadi sempurna,
Membentuk pemahaman sempurna menuju pemahaman abadi,
Itulah pandangan si FANA yang merasa menjadi ABADI.
Dia(CintA)di pandangan fikiran...
Menciptakan faham toleransi yang tinggi dan membentuknya menjadi Sang pemaaf,
Menciptakan badai kebimbangan dan membentuknya menjadi Sang ego lebih egois,
Mampu mematahkan asa diri atau membangunkan istana terindah atas diri sendiri.
Dia(pencinta)dihadapkan dua pilihan...
Cinta tetap cinta di hati dan terus berada di hati pun mematrikannya agar tetap abadi,
Ataukah cinta tetap cinta atas jiwa dalam pandangan jiwa yang memenuhinya dengan materi nikmat badani?..
Dia(pecinta yang mabuk dalam cinta)...
Diri dan cinta adalah cinta itu sendiri,
Fana dan abadi adalah jawaban rasa tertinggi dari kerelaan menjalani ,
Mana lah cinta jikalau diri sendiri adalah manifestasi cinta itu sendiri?..
Dia(pecinta yang mencari kenikmatan duniawi)...
Baginya cinta adalah mutlaknya memiliki dan memuaskan keinginan,
Selain daripada itu adalah kebencian dan kesenangan yang takkan pernah terpuaskan,
Mudah tergantikan dan mudah dihancurkan.
Tak ada satupun pengetahuan yang bisa memahaminya(cinta),
Dia(cinta)mengaliri setiap inci kesadaran hingga tiada tersadar telah mabuk atasnya.
Pemahaman awal atas cinta adalah kegelisahan...
Awal dimana pemikiran menjadi buta dan bimbang,
Merasuk kedalam hati dan melemahkan setiap kekuatan yang dimiliki,
Cinta itu telah menghapus semua pengetahuan apapun.
Tetapi dia(cinta)...
Memulihkan kembali pengetahuan dan rasa ingin tahu semakin menjadi-jadi,
Mengoyak pemikiran menjadi berlaksa-laksa tanya jawab yang tak pasti,
Tubuh bak di berangus oleh alirannya,
Kekuatan yang lunglai kembali penuh daya.
Dia(CintA)...
Mengajarkan tata krama mencintai
Mengajarkan adab mengasihi dan memberi,
Mengajarkan tata cara tuk saling menghormati.
Dia(CintA)...
Membuka hijab pemikiran menjadi lebih terang memahami,
Membuka selubung ketidaktahuan menjadi acuan tuk belajar lebih berpengetahuan tentangnya(cinta),
Menjadikan hulu dari semua titik yang menjadi pusat perhatiannya sendiri.
Dia(CintA)di hati...
Menyapu bersih setiap cela menjadi sempurna,
Membentuk pemahaman sempurna menuju pemahaman abadi,
Itulah pandangan si FANA yang merasa menjadi ABADI.
Dia(CintA)di pandangan fikiran...
Menciptakan faham toleransi yang tinggi dan membentuknya menjadi Sang pemaaf,
Menciptakan badai kebimbangan dan membentuknya menjadi Sang ego lebih egois,
Mampu mematahkan asa diri atau membangunkan istana terindah atas diri sendiri.
Dia(pencinta)dihadapkan dua pilihan...
Cinta tetap cinta di hati dan terus berada di hati pun mematrikannya agar tetap abadi,
Ataukah cinta tetap cinta atas jiwa dalam pandangan jiwa yang memenuhinya dengan materi nikmat badani?..
Dia(pecinta yang mabuk dalam cinta)...
Diri dan cinta adalah cinta itu sendiri,
Fana dan abadi adalah jawaban rasa tertinggi dari kerelaan menjalani ,
Mana lah cinta jikalau diri sendiri adalah manifestasi cinta itu sendiri?..
Dia(pecinta yang mencari kenikmatan duniawi)...
Baginya cinta adalah mutlaknya memiliki dan memuaskan keinginan,
Selain daripada itu adalah kebencian dan kesenangan yang takkan pernah terpuaskan,
Mudah tergantikan dan mudah dihancurkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Archives
-
▼
2011
(114)
-
▼
Januari
(114)
-
▼
Jan 14
(81)
- <[Dari Pengasingan]> c.p 1-12 dewa in Memorial Mob...
- <[2 dArI Pengasingan]>
- <[3 dArI Pengasingan]>
- <[4 dArI Pengasingan]>
- <[5 dari Pengasingan]>
- <[6 dArI Pengasingan]>
- <[7 dArI Pengasingan]>
- <[8 dArI Pengasingan]>
- <[9 dArI Pengasingan]>
- <[10 dArI Pengasingan]>
- <[11 dArI Pengasingan]>
- <[12 dArI Pengasingan]>
- Aku bicara tentang Wanita...
- Bukan Pujangga dengan Puisinya...
- Inilah hatiku,sayang..........
- " PENERIMAAN TANPA SYARAT "
- Sederhana
- Sesaatpun ku mau
- Tak seHarusnya
- Kenangan bersamamu....
- Aku tersenyum...
- Skripsi Hati Sepi
- Masih Muda(tentang CINTA): Dari Wanita itu..
- Sesuatu tentang CintA.........
- Sesuatu tentang...
- Sesuatu tentang CINTA..
- Nyanyian Burung Menjelang Senja
- Jika Tak Cinta dia...
- Berusaha lah...
- AKu dan Kau
- .:: Noktah Sepi ::.
- Dari Hati...
- .:: Berlepas...
- .:: Kilah Hati....
- .:: Tersenyumlah,Cinta...
- .:: Ingatlah,Cinta...
- .:: Dulu dan Kini...
- .:: Dari Hati(caraku)....
- .:: (Kisah)Aku Juga Bisa.....
- .:: Tengok Rapuhnya...
- .:: Aku dan Kenangan..........
- .:: Aku MenCintaiMu......
- .:: Makalah Sepi..........
- .:: Diary Sepi..........
- .:: Maafkan Aku....
- .:: Teruntuk Sebuah Janji..........
- .:: Nanar........
- .:: Ungkapan Tak Jadi....
- .:: Kenangan Tiba...
- .:: Makalah Hati...
- .:: Kilah-Kilah Waktu...
- .:: Perih....
- .:: Membisu....
- .:: Sahabat... ::.
- Harus Ku Terima.....
- Jangan terburu2 membenci...
- .:: Ada Hati di dalam Hati ::.
- :: Aku ingin kau bisa melihat rasamu seperti ku me...
- Aku tak tahu,Maafkan aku..
- Cahaya dan Sepi
- Subhanalloh...Alhamdulillah...Astaghfirulloh
- Sepeninggal kita
- Melihatmu lagi...
- Rasa tak terbantah...
- Berpeluh sangka engkau mendera
- Saat Tertinggal...
- Aku dan Catatanku...
- .:: Rasa Sesuci ::.
- .:: Ceritakanlah... ::.
- .:: Fahami rasaku(Rasa Seorang Wanita) ::.
- .:: Terima ini..(dg hati yg basah/lemah lembut) ::.
- .:: Tentang Kita ::.
- .:: Masih disini.. ::.
- .:: Sudahi perih itu... ::.
- .:: Tentang Perasaan,Rasa,Cinta.. ::.
- .:: Titik.. ::.
- .:: Dari Dan Untuk... ::.
- .:: Cantik ::.
- .:: PerSIAPkan diri..(hai,eL..) ::.
- .:: Aku pernah,apa kau juga pernah..(hai,eL..) ::.
- .:: Sisa Kenangan ::.
-
▼
Jan 14
(81)
-
▼
Januari
(114)