Malam temaram dalam bayangan...
Jiwa terdiam dalam haus dan kelaparan
Mencari tegukan buat membasahi kenangan
Mencari sesuap buat mendulang bayangan.
Dada yang sesak semakin dalam sembab...
Hati yang meronta semakin tergilas roda
Putaran hati dalam kenang penuh manja
Dimana api senyuman di mata itu?..
Masih tak kuasa dada menahan...
Hati dalam riang tanpa ruang
Kehadiran pun semakin di tuntut datang
Hanya diam dan meredam yang bisa ku lakukan
Karena kenyataan kan kian meradang.
Karib sayangi kasih bulan malam...
Ku tunggu kehadirannya penuh ketabahan
Dari waktu yang berkumpul dalam hari
Hingga sampai pada tahun nan berganti.
Ruang hati ini masih menerima...
Dengan ramah meski suara terbatah-batah
Meski sumbang mendendang lengang
Meski tak ada ruang dalam hilang.
Yang mengalun memecah sunyi,tatkala kesendirian merasuk dan manakala hati terbuai dalam balur tak bernama..Tersenyum sendiri..Terbuai mimpi..Lalu terhenyak sirna tanpa kata.
14 Mei 2009
Cakrawala
Semesta ini menguji benak...
Hilang datang hadir menghilang
Semuanya beralih dalam satu ruang
Terpendam bila datang satu dengan yang lain.
Kekerabatan ini benar-benar bijak...
Dalam takdir ku jalani apa yang semestinya
Karena peristiwanya dalam satu mata
Mata rantai kehilangan dan samar.
Dari pagi sampai siang dari siang sampai malam...
Kurun demi kurun terhitung dari garis manusia
Sebagai pembeda batas waktu dan hari
Yang sebenarnya tak terbatas ruang maupun isi.
Di namai itu semua untuk mengingat...
Dimana ada saat semuanya di ubah
Yang buruk menjadi baik
Dan yang baik semakin baik
Lalu semuanya kembali pada apa yang disebut
Maha dari Segala Kebaikan.
Hilang datang hadir menghilang
Semuanya beralih dalam satu ruang
Terpendam bila datang satu dengan yang lain.
Kekerabatan ini benar-benar bijak...
Dalam takdir ku jalani apa yang semestinya
Karena peristiwanya dalam satu mata
Mata rantai kehilangan dan samar.
Dari pagi sampai siang dari siang sampai malam...
Kurun demi kurun terhitung dari garis manusia
Sebagai pembeda batas waktu dan hari
Yang sebenarnya tak terbatas ruang maupun isi.
Di namai itu semua untuk mengingat...
Dimana ada saat semuanya di ubah
Yang buruk menjadi baik
Dan yang baik semakin baik
Lalu semuanya kembali pada apa yang disebut
Maha dari Segala Kebaikan.
Kembalinya Arti Kehilangan
.."Mungkinkah..?"..Terbatah hati ini menyuarakannya.
Terbayang berbagai manisnya kecapan hati,
Selalu saja mengaliri isi jiwa dan nurani ini meski tak meminta.
Serasa haus dada ini...
Mata ini serasa keluh memandang,
Indah dunia menjadi semakin semu.
.."Ah.."...Janji-janji hanya tinggal serpihan,
Tak ada sepatah kata pun yang lagi ku dengar dari bibirmu.
.."Dimanakah kau?"...Sentuhan desah yang mengalir landai.
Lenyap daku dalam bayang-bayang masa silam...
Serasa semakin lengkap duka rindu penantian ini,
Mengikis keresahan diriku akan kehadiranmu lagi.
Menit-menit berlalu dalam rangkuman waktu,
Hendak ku lawan nestapa ini,namun..
Naif..!...
Pergolakan hati ini sudah semakin menguning lewati hari,
Hati kian terpikat di setiap kehadiran bayang-bayang kenangan.
.."Gelora ini semakin tiada dapat ku tahan"...
.."Adakah lagi waktu bersama mengiring kehadiran kita berbagi tawa?"..
.."Adakah lagi waktu kita saling memilahi duri-duri yang halangi kita menempuh cita dan cinta tuk saling mewujudkannya?"..
.."Adakah kita kembali di pertemukan dalam suatu saat yang lebih baik?"..
.."Ah.."...Kosakata peluh hati merinduimu.
Kenyataan waktu kini tak jua kunjung sirna,
Hilangnya dirimu dari mata ini seolah membuat diriku terbangun,
Benar-benar kini ku rasakan arti kehilangan itu kembali,
Setelah berpuluh resah dan apapun yang mengikutinya,
Hilang dan tumbuh terjang rangkak kembali pulang.
Terbayang berbagai manisnya kecapan hati,
Selalu saja mengaliri isi jiwa dan nurani ini meski tak meminta.
Serasa haus dada ini...
Mata ini serasa keluh memandang,
Indah dunia menjadi semakin semu.
.."Ah.."...Janji-janji hanya tinggal serpihan,
Tak ada sepatah kata pun yang lagi ku dengar dari bibirmu.
.."Dimanakah kau?"...Sentuhan desah yang mengalir landai.
Lenyap daku dalam bayang-bayang masa silam...
Serasa semakin lengkap duka rindu penantian ini,
Mengikis keresahan diriku akan kehadiranmu lagi.
Menit-menit berlalu dalam rangkuman waktu,
Hendak ku lawan nestapa ini,namun..
Naif..!...
Pergolakan hati ini sudah semakin menguning lewati hari,
Hati kian terpikat di setiap kehadiran bayang-bayang kenangan.
.."Gelora ini semakin tiada dapat ku tahan"...
.."Adakah lagi waktu bersama mengiring kehadiran kita berbagi tawa?"..
.."Adakah lagi waktu kita saling memilahi duri-duri yang halangi kita menempuh cita dan cinta tuk saling mewujudkannya?"..
.."Adakah kita kembali di pertemukan dalam suatu saat yang lebih baik?"..
.."Ah.."...Kosakata peluh hati merinduimu.
Kenyataan waktu kini tak jua kunjung sirna,
Hilangnya dirimu dari mata ini seolah membuat diriku terbangun,
Benar-benar kini ku rasakan arti kehilangan itu kembali,
Setelah berpuluh resah dan apapun yang mengikutinya,
Hilang dan tumbuh terjang rangkak kembali pulang.
13 Mei 2009
Peluh..
Rinai-rinai hujan menitik...
Begitupun iring-iringan suara hati yang letih,
Mengurung kesababan yang berimpulse.
.."Kemana aku membagi ini semua?"...
Tak ada sesuatu yang dapat aku salahkan,
Segalanya memang terjadi sebagaimana adanya.
.."Biarlah..biarlah.."...
Ini mengering dalam ruangnya,
Bersama waktu dan jalaran akarnya.
.."Meski manis mengemis"...
Sisa rintikkan yang menyatu padu.
.."Biarlah.."...
Sekerlip api dalam temaram,
Seka peluh seka juga duka.
Semakin dingin...
Beku dalam bisu bermenit-menit,
Dengan langkah-langkah penuh sunyi..
Senyap...
Lenyap dalam hilang.
Begitupun iring-iringan suara hati yang letih,
Mengurung kesababan yang berimpulse.
.."Kemana aku membagi ini semua?"...
Tak ada sesuatu yang dapat aku salahkan,
Segalanya memang terjadi sebagaimana adanya.
.."Biarlah..biarlah.."...
Ini mengering dalam ruangnya,
Bersama waktu dan jalaran akarnya.
.."Meski manis mengemis"...
Sisa rintikkan yang menyatu padu.
.."Biarlah.."...
Sekerlip api dalam temaram,
Seka peluh seka juga duka.
Semakin dingin...
Beku dalam bisu bermenit-menit,
Dengan langkah-langkah penuh sunyi..
Senyap...
Lenyap dalam hilang.
Irama Sunyi
Sebersit kata hati menembang
Sepasang mata pun turut mengembun
Bersama mengalirnya cerita di masa dulu.
Ada suka yang tiada di ceritakan..
Betapa rahasia bahagia itu dirasakan..
Seolah tak ada habisnya dahaga itu menembus rongga dada,
Dada kasih rasa hati.
.."Dimana engkau?"...
Dinding waktu ini memecah
Jarak itu pun jauh membelah
Satu purnama tak jua kunjung sua.
.."Andai kau dengar.."...
Dua wajah runtuh dalam langit-langit
Atma hati meliriskan irama sunyi
Bersatu pun tak ada saat dan waktu.
.."Perbedaan itu.."...
Tertawan keinginan
Laksana jentik-jentik yang menggeliat di air
Ada rasa hati tuk bangkit
Namun apalah daya kekuatan terkungkung
Belum juga bertemu waktu
Dan saat pun menghibur di balik dinding
Aksara itu...Mengasap dan membeku haru.
Sepasang mata pun turut mengembun
Bersama mengalirnya cerita di masa dulu.
Ada suka yang tiada di ceritakan..
Betapa rahasia bahagia itu dirasakan..
Seolah tak ada habisnya dahaga itu menembus rongga dada,
Dada kasih rasa hati.
.."Dimana engkau?"...
Dinding waktu ini memecah
Jarak itu pun jauh membelah
Satu purnama tak jua kunjung sua.
.."Andai kau dengar.."...
Dua wajah runtuh dalam langit-langit
Atma hati meliriskan irama sunyi
Bersatu pun tak ada saat dan waktu.
.."Perbedaan itu.."...
Tertawan keinginan
Laksana jentik-jentik yang menggeliat di air
Ada rasa hati tuk bangkit
Namun apalah daya kekuatan terkungkung
Belum juga bertemu waktu
Dan saat pun menghibur di balik dinding
Aksara itu...Mengasap dan membeku haru.
Tak di rundung Kekal
Ritme-ritme indah mengalun mengusik nurani...
Kisah-kisah pun tiada juga meleleh,
Hati mencari-cari jiwa memilah-milah.
.."Baiklah.."..
Aku turuti sebuah mau yang berkehendak...
Aku hamparkan kesejahteraan pula disana..
Negeriku yang sepi..Negeriku yang sunyi
Syaratkan dalam waktu juga tuk sendiri.
Senja senyap malam pekat..
Mendung merundung bintang melintang..
Maka...
Sertakan aku berbaur menyatu.
Habis kikis merintih-rintih
Rindu mengerang merajuk tuju
Bertemu tak pula jadi mau
Berjumpa pun sama-sama tak restu.
.."Inikah kesalahan?"...
Bukan penyesalan menjadi keharusan
Sadar akan diri tegakkan hati
Meski mau di tampik jauh
Bukan berarti harus mati di rundung kekal..
Kisah-kisah pun tiada juga meleleh,
Hati mencari-cari jiwa memilah-milah.
.."Baiklah.."..
Aku turuti sebuah mau yang berkehendak...
Aku hamparkan kesejahteraan pula disana..
Negeriku yang sepi..Negeriku yang sunyi
Syaratkan dalam waktu juga tuk sendiri.
Senja senyap malam pekat..
Mendung merundung bintang melintang..
Maka...
Sertakan aku berbaur menyatu.
Habis kikis merintih-rintih
Rindu mengerang merajuk tuju
Bertemu tak pula jadi mau
Berjumpa pun sama-sama tak restu.
.."Inikah kesalahan?"...
Bukan penyesalan menjadi keharusan
Sadar akan diri tegakkan hati
Meski mau di tampik jauh
Bukan berarti harus mati di rundung kekal..
.."Kemana Mencari"..
Rinduku pun menjelma...
Rupa-rupa kedewasaannya menambah hati tuk sayanginya,meski sayang beribu malang bila namaku di hatinya tak lebih dari sekedar pelipur dan picingan sebelah mata.
Jiwaku menepis segala bentuk pelucutan asa,yang merongrong kembang-kembang manis senyum hati.
Begitupun ketiadaan bintang-bintang di langit sana...
Seakan kelam dan sepi selimuti segenap jawaban.
.."Ah.."..
Ada yang mengganjal di hati ini,ingin ku usir tetapi sulit merubah kedudukannya.
Semakin dalam aku sadari dan semakin dalam aku ketahui,maka semakin aku terpuruk bersama kasihku sendiri.
Dan malam kian mencekam...
Suara-suara jiwa serta hatiku mulai berkurang,
Kelabilan pun melanda,
Namun apakah yang menyakitiku?..
Nuansa masa lalu membawa pertentangan...
Kerlip kelopak mata ini beriring nafas yang tersengal-sengal,
Dan kesepian mewarnai semuanya.Elok paras wajahnya mengepul,
Jelangkan kasih tuk milikinya.
Aku ingin segera adanya...
Tuntut nurani yang tak segan dan tak enggan lagi meminta pada diriku sendiri,meski sebenarnya aku sempat menyesal..
Membohongi hati dengan rayuan dan asa yang tak kunjung adanya,serta terwujud nyata.
Selalu dan slalu ku bujuk diriku,bahwa masih terlalu mentah mimpi-mimpi ini.
Nurani pun semakin merengek-rengek...
Betapa pedih aku mendengarnya,
Pedih bila aku tak mampu memenuhi pinta hingga kian lama rengekan itu menjadi jerit pilu yang mencekam.
Keibaanku pun mengucur tanpa henti...
Hendak kemana aku mencarinya?..
Bujukanku pun habis tercurah,
Berantakan aku merangkul nurani,
Sembab dan iba aku sadari keadaanku sendiri.
Rupa-rupa kedewasaannya menambah hati tuk sayanginya,meski sayang beribu malang bila namaku di hatinya tak lebih dari sekedar pelipur dan picingan sebelah mata.
Jiwaku menepis segala bentuk pelucutan asa,yang merongrong kembang-kembang manis senyum hati.
Begitupun ketiadaan bintang-bintang di langit sana...
Seakan kelam dan sepi selimuti segenap jawaban.
.."Ah.."..
Ada yang mengganjal di hati ini,ingin ku usir tetapi sulit merubah kedudukannya.
Semakin dalam aku sadari dan semakin dalam aku ketahui,maka semakin aku terpuruk bersama kasihku sendiri.
Dan malam kian mencekam...
Suara-suara jiwa serta hatiku mulai berkurang,
Kelabilan pun melanda,
Namun apakah yang menyakitiku?..
Nuansa masa lalu membawa pertentangan...
Kerlip kelopak mata ini beriring nafas yang tersengal-sengal,
Dan kesepian mewarnai semuanya.Elok paras wajahnya mengepul,
Jelangkan kasih tuk milikinya.
Aku ingin segera adanya...
Tuntut nurani yang tak segan dan tak enggan lagi meminta pada diriku sendiri,meski sebenarnya aku sempat menyesal..
Membohongi hati dengan rayuan dan asa yang tak kunjung adanya,serta terwujud nyata.
Selalu dan slalu ku bujuk diriku,bahwa masih terlalu mentah mimpi-mimpi ini.
Nurani pun semakin merengek-rengek...
Betapa pedih aku mendengarnya,
Pedih bila aku tak mampu memenuhi pinta hingga kian lama rengekan itu menjadi jerit pilu yang mencekam.
Keibaanku pun mengucur tanpa henti...
Hendak kemana aku mencarinya?..
Bujukanku pun habis tercurah,
Berantakan aku merangkul nurani,
Sembab dan iba aku sadari keadaanku sendiri.
11 Mei 2009
A K U
Tidak ajarkan kepadamu untuk membenci,mengumpat ataupun menyakiti orang lain..
Tidak pula ajarkan cara untuk menghakimi dengan hukum mau mu sendiri..
Untuk apa hukum Ku maklumkan agar di tepati,bila hukum itu lebih dulu kau pakai untuk mendasari pendapatmu?..
AKU tidak tergiur indahnya tubuhmu,karna kau karya-Ku sendiri..
AKU tidak mengutamakan derajatmu,kepandaianmu,harta benda mu,kebaikanmu sebagaimana yang kau banggakan.
AKU hanya melihat hatimu...
Dengan begitu AKU tahu mana kebaikan yang ikhlas karena-KU dan mana tindakan yang haq bersandar pada-KU,dengan begitu kau tidak sedikitpun bisa mengelabui pandangan-KU sebagaimana engkau menganggap telah mampu mengelabui orang lain.
SESUNGGUHNYA kamu hanyalah mengelabui dirimu sendiri,menipu dirimu sendiri dengan anggapanmu yang mengira orang lain tak tahu..DIA maha mengetahui apa2 yang di dalam dadamu..
Tidak pula ajarkan cara untuk menghakimi dengan hukum mau mu sendiri..
Untuk apa hukum Ku maklumkan agar di tepati,bila hukum itu lebih dulu kau pakai untuk mendasari pendapatmu?..
AKU tidak tergiur indahnya tubuhmu,karna kau karya-Ku sendiri..
AKU tidak mengutamakan derajatmu,kepandaianmu,harta benda mu,kebaikanmu sebagaimana yang kau banggakan.
AKU hanya melihat hatimu...
Dengan begitu AKU tahu mana kebaikan yang ikhlas karena-KU dan mana tindakan yang haq bersandar pada-KU,dengan begitu kau tidak sedikitpun bisa mengelabui pandangan-KU sebagaimana engkau menganggap telah mampu mengelabui orang lain.
SESUNGGUHNYA kamu hanyalah mengelabui dirimu sendiri,menipu dirimu sendiri dengan anggapanmu yang mengira orang lain tak tahu..DIA maha mengetahui apa2 yang di dalam dadamu..
.:: Berhenti lah ::.
.."Berhentilah membicarakan aib orang lain,karna itu sama hal nya membicarakan aibmu sendiri"...
Mengapa begitu?..
Jika mendengarkan cerita aib dan mempercayai nya,pendengarnya adalah si tolol yang mudah dijangkiti penyakit.
Jika si pendengar cerita orang yang memahami cara mendengar,maka si pendengar tidak mudah di pengaruhi apapun bentuk kata pemanis itu agar tidak tergesa-gesa mempercayai tanpa di filter lebih dahulu.
Jika pendengar adalah orang cerdik,maka si pendengar akan menilai terlebih dahulu apa tujuan dan motif si pembuka aib ini.Dan jika si pendengar orang pandai,maka dia pasti tahu untuk tidak mengikuti apapun bentuk isi bumbu2 cerita hingga dia melihat tujuan cerita dan mengantisipasi nya supaya tidak terpengaruh buruk akibat juga agar adalah si pendengar akan meluruskan cara pandang si penebar aib ini.
Tahukah bahwasanya membuka aib adalah seperti makan daging saudaranya sendiri?..itulah Firman-Nya..
Mengapa begitu?..
Jika mendengarkan cerita aib dan mempercayai nya,pendengarnya adalah si tolol yang mudah dijangkiti penyakit.
Jika si pendengar cerita orang yang memahami cara mendengar,maka si pendengar tidak mudah di pengaruhi apapun bentuk kata pemanis itu agar tidak tergesa-gesa mempercayai tanpa di filter lebih dahulu.
Jika pendengar adalah orang cerdik,maka si pendengar akan menilai terlebih dahulu apa tujuan dan motif si pembuka aib ini.Dan jika si pendengar orang pandai,maka dia pasti tahu untuk tidak mengikuti apapun bentuk isi bumbu2 cerita hingga dia melihat tujuan cerita dan mengantisipasi nya supaya tidak terpengaruh buruk akibat juga agar adalah si pendengar akan meluruskan cara pandang si penebar aib ini.
Tahukah bahwasanya membuka aib adalah seperti makan daging saudaranya sendiri?..itulah Firman-Nya..
10 Mei 2009
.:: Jika Memang Begitu ::.
Tak perlu harus menguak aib hanya untuk mendapatkan pengakuan banyak orang agar di benarkan ataupun diakui.
Tak perlu menciptakan permusuhan hanya karena satu keinginan tak terjembatani dengan baik apalagi menciptakan pemahaman sendiri untuk dibicarakan pada orang lain.
Tak perlu harus menciptakan propaganda agar adalah orang lain memihak sebelah pihak dengan rangkaian cerita yang kau ciptakan untuk membuat percaya,maka bodoh buat mereka yang langsung percaya tanpa bukti nyata dan hanya berdasarkan berita-berita sepihak.
Tak peduli jika begitu adalah orang lain,tetapi jangan membalasnya serupa karena itu adalah sama hal nya kau tak ubahnya dia..
Tak perlu menciptakan permusuhan hanya karena satu keinginan tak terjembatani dengan baik apalagi menciptakan pemahaman sendiri untuk dibicarakan pada orang lain.
Tak perlu harus menciptakan propaganda agar adalah orang lain memihak sebelah pihak dengan rangkaian cerita yang kau ciptakan untuk membuat percaya,maka bodoh buat mereka yang langsung percaya tanpa bukti nyata dan hanya berdasarkan berita-berita sepihak.
Tak peduli jika begitu adalah orang lain,tetapi jangan membalasnya serupa karena itu adalah sama hal nya kau tak ubahnya dia..
.:: Yang Pernah ::.
Ingatkah kau...
Pernah kau menangis menurutmu karena ku,pernah kau tertawa riang juga karena ku pun terluka karena ku.
Ingatkah kau...
Di bahu ku ini pernah kau sandarkan harapanmu,pernah kau tenggelam dalam dekapku tanpa ku tahu apa arti ketenggelamanmu itu.
Tahu kah kau...
Aku pun pernah merasa begitu sangat membutuhkanmu,butuh dekapan hangatmu juga buaian lembut kasihsayangmu.
Tahu kah kau...
Bahwa masih membutuhkan itu darimu,tak peduli kau kan pergi tinggalkanku ataukah kau tetap menemaniku.
Yang aku tahu...
Aku tak ingin kehilanganmu lagi,aku tak ingin kau pergi,aku tak ingin kita tak bisa lagi saling membagi.
Aku hanya ingin kau takkan pergi,meski kita harus terpisahkan.
Pernah kau menangis menurutmu karena ku,pernah kau tertawa riang juga karena ku pun terluka karena ku.
Ingatkah kau...
Di bahu ku ini pernah kau sandarkan harapanmu,pernah kau tenggelam dalam dekapku tanpa ku tahu apa arti ketenggelamanmu itu.
Tahu kah kau...
Aku pun pernah merasa begitu sangat membutuhkanmu,butuh dekapan hangatmu juga buaian lembut kasihsayangmu.
Tahu kah kau...
Bahwa masih membutuhkan itu darimu,tak peduli kau kan pergi tinggalkanku ataukah kau tetap menemaniku.
Yang aku tahu...
Aku tak ingin kehilanganmu lagi,aku tak ingin kau pergi,aku tak ingin kita tak bisa lagi saling membagi.
Aku hanya ingin kau takkan pergi,meski kita harus terpisahkan.
.:: Mengetuk Pintu Perhatian-Nya ::.
Aku tak duduk bersila..
Aku juga tak mengangkat dua tangan layaknya umum berdoa..
Pun aku menangis agar terlihat khusyu' dipandangan mata..
Mengusik perhatian-Mu adalah perhatianku...
Aku memang buta,apakah caraku itu benar-benar bisa membuat Engkau terusik tuk memperhatikanku layaknya yang ku mau.
Tetapi itulah cara yang ku dapat dan ku percaya mampu membuat Engkau memperhatikanku seperti harapanku,walaupun ku tahu apalah artiku hingga sedemikian berani nya aku mencari perhatian-Mu..
Aku juga tak mengangkat dua tangan layaknya umum berdoa..
Pun aku menangis agar terlihat khusyu' dipandangan mata..
Mengusik perhatian-Mu adalah perhatianku...
Aku memang buta,apakah caraku itu benar-benar bisa membuat Engkau terusik tuk memperhatikanku layaknya yang ku mau.
Tetapi itulah cara yang ku dapat dan ku percaya mampu membuat Engkau memperhatikanku seperti harapanku,walaupun ku tahu apalah artiku hingga sedemikian berani nya aku mencari perhatian-Mu..
Langganan:
Postingan (Atom)
Archives
-
▼
2011
(114)
-
▼
Januari
(114)
-
▼
Jan 14
(81)
- <[Dari Pengasingan]> c.p 1-12 dewa in Memorial Mob...
- <[2 dArI Pengasingan]>
- <[3 dArI Pengasingan]>
- <[4 dArI Pengasingan]>
- <[5 dari Pengasingan]>
- <[6 dArI Pengasingan]>
- <[7 dArI Pengasingan]>
- <[8 dArI Pengasingan]>
- <[9 dArI Pengasingan]>
- <[10 dArI Pengasingan]>
- <[11 dArI Pengasingan]>
- <[12 dArI Pengasingan]>
- Aku bicara tentang Wanita...
- Bukan Pujangga dengan Puisinya...
- Inilah hatiku,sayang..........
- " PENERIMAAN TANPA SYARAT "
- Sederhana
- Sesaatpun ku mau
- Tak seHarusnya
- Kenangan bersamamu....
- Aku tersenyum...
- Skripsi Hati Sepi
- Masih Muda(tentang CINTA): Dari Wanita itu..
- Sesuatu tentang CintA.........
- Sesuatu tentang...
- Sesuatu tentang CINTA..
- Nyanyian Burung Menjelang Senja
- Jika Tak Cinta dia...
- Berusaha lah...
- AKu dan Kau
- .:: Noktah Sepi ::.
- Dari Hati...
- .:: Berlepas...
- .:: Kilah Hati....
- .:: Tersenyumlah,Cinta...
- .:: Ingatlah,Cinta...
- .:: Dulu dan Kini...
- .:: Dari Hati(caraku)....
- .:: (Kisah)Aku Juga Bisa.....
- .:: Tengok Rapuhnya...
- .:: Aku dan Kenangan..........
- .:: Aku MenCintaiMu......
- .:: Makalah Sepi..........
- .:: Diary Sepi..........
- .:: Maafkan Aku....
- .:: Teruntuk Sebuah Janji..........
- .:: Nanar........
- .:: Ungkapan Tak Jadi....
- .:: Kenangan Tiba...
- .:: Makalah Hati...
- .:: Kilah-Kilah Waktu...
- .:: Perih....
- .:: Membisu....
- .:: Sahabat... ::.
- Harus Ku Terima.....
- Jangan terburu2 membenci...
- .:: Ada Hati di dalam Hati ::.
- :: Aku ingin kau bisa melihat rasamu seperti ku me...
- Aku tak tahu,Maafkan aku..
- Cahaya dan Sepi
- Subhanalloh...Alhamdulillah...Astaghfirulloh
- Sepeninggal kita
- Melihatmu lagi...
- Rasa tak terbantah...
- Berpeluh sangka engkau mendera
- Saat Tertinggal...
- Aku dan Catatanku...
- .:: Rasa Sesuci ::.
- .:: Ceritakanlah... ::.
- .:: Fahami rasaku(Rasa Seorang Wanita) ::.
- .:: Terima ini..(dg hati yg basah/lemah lembut) ::.
- .:: Tentang Kita ::.
- .:: Masih disini.. ::.
- .:: Sudahi perih itu... ::.
- .:: Tentang Perasaan,Rasa,Cinta.. ::.
- .:: Titik.. ::.
- .:: Dari Dan Untuk... ::.
- .:: Cantik ::.
- .:: PerSIAPkan diri..(hai,eL..) ::.
- .:: Aku pernah,apa kau juga pernah..(hai,eL..) ::.
- .:: Sisa Kenangan ::.
-
▼
Jan 14
(81)
-
▼
Januari
(114)